Elena Teslova
27 Juli 2021•Update: 27 Juli 2021
MOSKOW
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pada Senin mengatakan bahwa Rusia mengikuti perkembangan terakhir di Tunisia di mana Presiden Kais Saied memberhentikan pemerintah.
Presiden Saied juga menangguhkan parlemen selama 30 hari, dan mempersilahkan tentara turun ke jalan-jalan di ibu kota Tunis.
Mengomentari situasi tersebut, Peskov mengatakan Kremlin mengharapkan krisis politik tidak akan membahayakan keselamatan warga Rusia di Tunisia.
"Kami mengikuti berita dari Tunisia. Tentu kami berharap tidak ada yang mengancam stabilitas dan keamanan warga di negara ini," ujar dia.
Tunisia dilanda aksi protes terhadap pemerintah dan oposisi dalam beberapa pekan terakhir yang dipicu oleh krisis politik selama berbulan-bulan.
Pada Minggu, Saied mengumumkan bahwa dia membuat keputusan untuk membubarkan pemerintah, membekukan parlemen, dan mencabut kekebalan semua anggota parlemen serta mengambil peran sebagai jaksa penuntut umum.
Presiden juga mempersilahkan tentara turun ke jalanan di ibu kota setelah berkonsultasi dengan Perdana Menteri Tunisia Hichem Mechichi dan Ketua Parlemen Rached Ghannouchi.
Namun, Ghannouchi mengatakan Saied hanya berkonsultasi dengannya tentang mengambil prosedur darurat tetapi tidak memberitahu dia tentang keputusannya tersebut.
Dia juga menggambarkan tindakan Saied sebagai "kudeta terhadap revolusi dan konstitusi," menjanjikan bahwa rakyat Tunisia akan membela revolusi, menyerukan kepada ketua Umum Serikat Buruh Tunisia Noureddine Taboubi "untuk memulihkan demokrasi," dan mendesak seluruh organisasi nasional "untuk mempertahankan legitimasi hukum."