KYIV
Relawan di Kyiv melanjutkan upaya mereka untuk memobilisasi bantuan kemanusiaan untuk warga Ukraina yang membutuhkan saat perang Ukraina dan Rusia kembali memanas.
Bantuan tersebut disalurkan kepada para pengungsi internal yang telah meninggalkan kampung halamannya karena gencarnya serangan boman dan pengepungan.
Bantuan kemanusiaan dari berbagai negara Eropa dikumpulkan di pusat bantuan kemanusiaan di Kyiv.
Relawan di pusat ini memasukkan makanan, pakaian, produk kebersihan, obat-obatan, dan mainan ke dalam kotak dan dikirim ke daerah-daerah yang dilanda perang di negara itu.
Berbicara kepada Anadolu Agency, Olga Klimenko, seorang sukarelawan, mengatakan bahwa dia bekerja sebagai produser film dan teater sebelum perang.
Dia mengatakan mereka telah meminta penyanyi dan aktor terkenal untuk menulis surat kepada tentara dan warga sipil Ukraina supaya meningkatkan moral mereka.
Surat-surat ini telah ditempatkan di kotak bantuan, kata dia.
"Saya sangat percaya bahwa ketika perang berakhir, Ukraina akan berdiri kembali, dibangun kembali dan menjadi negara yang sangat maju. Masa depan kita akan cerah. Itu sebabnya saya tetap tinggal bersama anak saya," tutur dia.
Berterima kasih kepada Turki
Sementara itu, Sergey Buryak, direktur pusat bantuan kemanusiaan, mengatakan bahwa rakyat Ukraina sedang mengalami masa sulit dan mereka berusaha untuk saling mendukung selama perang.
Menyatakan telah mengunjungi Turki berkali-kali sebelum perang dan dia sangat menyukai Turki, Buryak mengatakan, "Kami berterima kasih kepada rakyat Turki yang ramah dan terutama Presiden Recep Tayyip Erdogan atas dukungan mereka selama masa sulit ini."
"Bahkan lagu-lagu ditulis dan dimainkan untuk Bayraktar di Ukraina," kata dia mengacu pada drone buatan Turki yang digunakan melawan pasukan Rusia.
Setidaknya 2.729 warga sipil telah tewas dan 3.111 lainnya terluka di Ukraina sejak perang dimulai pada 24 Februari, menurut perkiraan PBB. Jumlah korban sebenarnya dikhawatirkan jauh lebih tinggi.
Sejauh ini, 7,7 juta orang di Ukraina telah mengungsi, dengan lebih dari 5,2 juta mengungsi ke negara lain, menurut badan pengungsi PBB.