Necva Tastan, Seda Sevencan
26 Juni 2023•Update: 03 Juli 2023
ISTANBUL
Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan dan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg da pada Minggu membahas perkembangan terakhir di Rusia dan keanggotaan Swedia di NATO selama percakapan via telepon, menurut sebuah pernyataan dari Direktorat Komunikasi Turkiye.
Selama percakapan itu, mereka membahas tentang berakhirnya ketegangan di Rusia "mencegah terjadinya tragedi kemanusiaan yang tidak dapat dibatalkan di wilayah Ukraina," kata pernyataan itu.
“Kami menyampaikan kepada Stoltenberg bahwa Turkiye berharap perkembangan terakhir di Rusia akan menjadi "tonggak sejarah baru menuju perdamaian yang adil di Ukraina," tambah pernyataan itu.
Turkiye mempertahankan sikap konstruktifnya terkait keanggotaan Swedia tetapi amandemen legislatif tidak akan berarti selama pendukung PKK/PYD/YPG melakukan demonstrasi secara bebas di negara ini, kata Direktorat Komunikasi Turkiye.
Selanjutnya, "ketidakadilan yang dihadapi dalam penjualan jet F-35 dan upaya untuk mengaitkan permintaan Turkiye tentang F-16 dengan keanggotaan Swedia akan merugikan NATO dan keamanannya daripada Turkiye," tambah mereka.
Kelompok paramiliter Wagner menuduh pasukan Rusia menyerang para pejuangnya pada Jumat dan kelompok tersebut kemudian menyeberang dari Ukraina ke kota Rusia Rostov-on-Don.
Sebagai tanggapan, Dinas Keamanan Federal di Rusia memprakarsai kasus pidana terhadap Wagner karena "pemberontakan bersenjata". Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pemberontakan Wagner itu sebagai tindakan "pengkhianatan".
Kepala Wagner Yevgeny Prigozhin kemudian mengklaim para pejuangnya memutuskan untuk kembali untuk menghindari pertumpahan darah ketika mereka berada 200 kilometer dari Moskow, sementara Presiden Belarus Alexander Lukashenko mengatakan dia mengadakan pembicaraan dengan kepala Wagner atas persetujuan Putin, dan Prigozhin menerima kesepakatan de-eskalasi.
Prigozhin, dalam beberapa bulan terakhir, berulang kali menuduh Kementerian Pertahanan Rusia dan Menteri Pertahanan Sergey Shoygu tidak memasok senjata yang cukup kepada kelompok paramiliter tersebut.
Dalam lebih dari 35 tahun kampanye terornya melawan Turkiye, PKK – terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turkiye, AS, dan Uni Eropa – bertanggung jawab atas kematian lebih dari 40.000 orang, termasuk wanita, anak-anak, dan bayi.
Otoritas Turkiye mengatakan Swedia mentolerir dan bahkan mendukung anggota PKK di wilayahnya, dan langkah yang diambil untuk mengubahnya perlu dibuktikan sebelum bergabung dengan NATO.