Ahmet Salih Alacaci
ANKARA
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan rekan sejawatnya dari Rusia Vladimir Putin akan bertemu pada 14 Februari di kota Sochi, di mana mereka akan membahas situasi Suriah.
"Saya akan bertemu dengan Putin pada 14 Februari di Sochi," kata Erdogan kepada TRT News dalam wawancara eksklusif pada Minggu.
Presiden mengatakan Turki, Rusia dan Iran akan mengadakan KTT soal Suriah kedua di Sochi dan berharap pertemuan puncak itu akan berkontribusi pada situasi di Suriah.
Erdogan, Putin dan Presiden Iran Hassan Rouhani pertama kali bertemu di Sochi pada 2017.
Ketiga negara adalah penjamin yang menjadi perantara gencatan senjata di Suriah pada Desember 2016, yang mengarah ke perundingan Astana yang berjalan paralel dengan perundingan Jenewa.
Erdogan mengatakan delegasi Turki baru saja kembali dari Rusia dengan kemajuan dalam agenda Suriah.
"Kami berharap perkembangan positif ini akan memastikan organisasi teroris pergi dari Suriah dan pemilik yang sah kembali ke tanah mereka," tambahnya.
Presiden mengatakan sejauh ini, sekitar 300.000 orang Suriah telah kembali ke tanah mereka dari Turki.
Erdogan mengkritik kegagalan Washington untuk meninggalkan Manbij Suriah dalam waktu 90 hari seperti yang dijanjikan sebelumnya dan mengisyaratkan kemungkinan operasi di sebelah timur Sungai Efrat.
"Saya berharap mereka memenuhi ini segera karena kita tidak ingin hidup di bawah ancaman. Itulah sebabnya kita memiliki semua persiapan yang siap jika kita melihat tanda-tanda ancaman," tambahnya.
Dalam beberapa hari terakhir, para pejabat mengatakan Turki telah menyelesaikan semua persiapan untuk operasi di sebelah timur Eufrat di Suriah utara, yang menurut Ankara akan menjaga integritas teritorial di negara yang dilanda perang.
Turki mendukung integritas wilayah Suriah
"Kebijakan Turki di Suriah utara berpusat pada integritas teritorial Suriah dan kesatuan politik. Dengan kata lain, kami menentang pemisahan rakyat Suriah," kata Erdogan.
Sejak 2016, operasi Perisai Eufrat dan Ranting Zaitun Turki di Suriah barat laut telah membebaskan wilayah tersebut dari teroris YPG/PKK dan Daesh, termasuk wilayah Al-Bab, Afrin dan Azaz, memungkinkan warga Suriah yang melarikan diri dari kekerasan di sana untuk pulang ke rumah.
Dalam lebih dari 30 tahun kampanye terornya melawan Turki, PKK - yang diakui sebagai kelompok teroris oleh Turki, AS dan Uni Eropa - bertanggung jawab atas kematian sekitar 40.000 orang, termasuk wanita dan anak-anak. YPG/PYD adalah cabang Suriah kelompok itu.
Erdogan mengatakan Partai Demokrat Rakyat (HDP) di Turki memiliki ikatan organik dengan kelompok teror PKK/YPG/PYD.
"HDP sama dengan PKK dan itu sama dengan YPG dan PYD. Tidak jika dan tapi, ini adalah kebenaran," tambahnya.
'Operasi FETO akan dilanjutkan'
Tentang perjuangan Turki melawan Fetullah Terrorist Organization (FETO), kelompok di belakang kudeta yang dikalahkan 2016, Erdogan mengatakan operasi melawan kelompok teror akan berlanjut.
"Ada lebih banyak operasi yang harus dilakukan. Mereka masih ada di lembaga-lembaga negara, di kepolisian kita, militer dan tempat-tempat lain. Karena itu, tidak mudah. Itu seperti metastasis," katanya.
FETO dan pemimpinnya yang berbasis di AS Fetullah Gulen mengatur kudeta yang dikalahkan pada 15 Juli 2016, yang menyebabkan 251 orang tewas dan hampir 2.200 terluka.
Ankara juga menuduh FETO berada di balik kampanye jangka panjang untuk menggulingkan negara melalui infiltrasi lembaga-lembaga Turki, khususnya militer, polisi dan pengadilan.
Erdogan mengatakan bahwa upaya terbaru oleh FBI dapat memengaruhi keputusan AS untuk mengekstradisi Gulen ke Turki.
Ankara telah lama mengupayakan ekstradisi Gulen dan menyatakan kekecewaannya atas penundaan di pihak A.S.
Pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi
Mengenai pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi awal Oktober lalu di Konsulat Arab Saudi Istanbul, Erdogan menegaskan kembali komitmen Turki untuk masalah ini dan menuntut jawaban dari Arab Saudi.
"Kami ingin semuanya terungkap. Ada kebiadaban yang dipertaruhkan, sebuah pembunuhan. Mengapa Anda menyembunyikannya?" tegasnya.
Erdogan mengatakan bahwa pembunuhan itu direncanakan oleh 22 orang, 15 di antaranya tiba di Istanbul dengan dua pesawat dan mengunjungi konsulat pada hari pembunuhan itu.
"Mereka [Arab Saudi] mengatakan 22 orang telah ditangkap. Meskipun demikian, kami memiliki beberapa informasi. Mereka mungkin telah melenyapkan beberapa dari mereka. Mereka mungkin menjadi korban kecelakaan lalu lintas, karena sistem di sana sangat aneh," ujarnya.
"Saya tidak dapat memahami keheningan AS dalam menghadapi semua kebiadaban ini. Kami telah meminta intelijen AS mendengarkan rekaman audio dan direktur CIA Gina Haspel memberi pengarahan singkat kepada Senat. Presiden intelijen kami, Hakan Fidan, juga telah memberi pengarahan kepada tujuh senator," tambah Erdogan, mengkritik kebisuan AS terhadap masalah ini.