ANKARA
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membahas serangan Rusia di Ukraina dengan presiden Austria dan perdana menteri Belanda melalui telepon pada Selasa.
Erdogan dan Perdana Menteri Belanda Mark Rutte membahas perkembangan regional dan hubungan Turki-Belanda, kata Direktorat Komunikasi Turki dalam sebuah pernyataan.
Pemimpin Turki mengatakan mereka terus bekerja menuju gencatan senjata segera antara kedua belah pihak dan mereka akan terus mendukung kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina.
Setelah melakukan percakapan telepon, Rutte mengatakan di Twitter, "Sebagai Sekutu NATO, negara-negara kita berdiri bahu-membahu mengutuk keras invasi Rusia dan mendukung Ukraina."
Perang Rusia-Ukraina menuai kemarahan dari masyarakat internasional dengan Uni Eropa, Inggris dan AS menerapkan berbagai sanksi ekonomi terhadap Rusia.
Setidaknya 136 warga sipil, termasuk 13 anak-anak, tewas dan 400 lainnya, termasuk 26 anak-anak, terluka di Ukraina, menurut laporan PBB.
Sekitar 660.000 orang telah meninggalkan Ukraina ke negara-negara tetangga, kata Badan Pengungsi PBB.
Dalam percakapan telepon terpisah dengan Presiden Austria Alexander Van der Bellen, Erdogan mengatakan kepada sejawatnya bahwa Turki melakukan yang tindakan terbaik untuk mencapai gencatan senjata antara Kyiv dan Moskow, membangun kembali perdamaian, dan meningkatkan situasi kemanusiaan di wilayah tersebut.
Menekankan bahwa Turki dan Austria memiliki kapasitas untuk memajukan hubungan di semua tingkatan, Erdogan menggarisbawahi kontribusi warga Turki yang tinggal di Austria dalam mengembangkan ikatan antara kedua komunitas.
Dia menekankan bahwa perkembangan terakhir sekali lagi menunjukkan pentingnya Turki untuk keamanan Eropa, menyuarakan harapan untuk "langkah nyata dan bermakna" dalam hubungan dengan UE, termasuk untuk memulai pembicaraan tentang memperbarui Serikat Pabean mereka, serta pembebasan visa.
Turki, calon anggota Uni Eropa sejak 1999, memulai pembicaraan aksesi dengan blok tersebut pada 2005.