20 September 2017•Update: 21 September 2017
Betul Yuruk
NEW YORK
Dalam pernyataan di depan media yang diadakan di kantor pusat PBB saat Sidang Majelis Umumnya yang ke-72, Rabu, Presiden Perancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa musuh utama Prancis bukanlah Presiden Suriah Bashar al-Assad, melainkan al-Dawla al-Islamiya al-Iraq wa al-Sham (Daesh).
“Mereka yang menyerang Prancis, bukan Assad. Namun Assad juga bersalah, maka rakyat Suriah harus menghukum [Assad] sesuai dengan kejahatan yang dilakukannya,” tukasnya.
Presiden Macron berharap, tercipta kedamaian dan kestabilan di Suriah. Karena itu, diperlukan adanya proses politik inklusif yang membuat Assad tidak akan bertahan sebagai presiden.
Sejak 2011, Presiden Macron telah mengimbau supaya Assad melepaskan jabatannya sebagai Presiden Suriah. Namun karena usaha-usaha (militer) yang dilakukan ternyata tidak membuahkan hasil, dia menyarankan untuk membuat “pendekatan yang lebih pragmatis”.
“Rakyat Suriah lah yang menentukan apakah [Assad] harus pergi atau tidak. Bagi kami yang terpenting bukan kepergian Assad, namun proses transisi politik yang memberikan kesempatan kepada rakyat Suriah untuk bebas dalam memilih,” katanya.
Untuk itu, Prancis menawarkan bantuan untuk melakukan mediasi antara AS dengan Iran. Menurutnya, Iran adalah negara yang perlu dilibatkan dalam konflik Suriah karena peran aktifnya di sana.
“Jika kita tidak menyelesaikan masalah bersama Iran, maka kita tidak akan menemukan solusi yang efektif,” jelasnya, menyebut bahwa Iran adalah salah satu negara yang memiliki peran besar di lapangan.