Pızaro Gozalı Idrus
06 Februari 2020•Update: 07 Februari 2020
Mehmet Ozturk / Islamuddin Sajid
ISLAMABAD, Pakistan
Perdana Menteri Pakistan Imran Khan mengingatkan masyarakat internasional bahwa Partai Bharatiya Janata (BJP), yang berkuasa di India, sedang mempersiapkan diri mengulangi genosida seperti di Myanmar dan mengenyampingkan populasi minoritas.
Dia mengatakan sebanyak 500 juta orang akan dikeluarkan dari daftar warga negara di bawah undang-undang kewarganegaraan India, yang diikuti dengan memperbarui Daftar Warga Nasional (NRC).
Dalam wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency di ibu kota Pakistan, Islamabad, Khan berbicara dengan rinci berbagai persoalan seperti situasi di Timur Tengah, Afghanistan, hubungan dengan Turki, masalah domestik, ekonomi, perubahan iklim, hubungan dengan India, dan persoalan Jammu dan Kashmir.
"Ini persis seperti apa yang terjadi di Myanmar ketika mereka pertama kali memulai melakukan pendataan warga negara dan itulah cara mereka dengan mengecualikan Muslim dan kemudian terjadilah genosida. Saya khawatir ini menjadi tujuan di India," kata Khan.
Dalam sebuah wawancara lebih dari 40 menit di ruang tamu rumah jabatan Perdana Menteri, Khan berbicara tentang keindahan Turki dan mengenang masa lalunya yang pernah tinggal bersama kedua putranya di Istanbul sebelum menjabat sebagao Perdana Menteri Pakistan.
Dia menyatakan keinginannya untuk menyertakan Turki dalam berbagai proyek jutaan dolar untuk memperkuat hubungan dengan Ankara.
Dengan latar pendiri Pakistan Muhammad Ali Jinnah yang tergantung di ruangannya, Khan melakukan wawancara pertamanya untuk kantor berita global Turki.
Khan dengan hangat menerima tim Anadolu Agency dan menjawab semua pertanyaan di hadapan Asisten Khusus Bidang Informasi Firdous Ashiq Awan.
Dia menanggapi pertanyaan tentang kemungkinan masuknya imigran India ke Pakistan dan Bangladesh akibat kebijakan India.
Khan menyampaikan Bangladesh menolak menerima warga India yang telah dikeluarkan dari daftar kewarganegaraan di negara bagian Assam.
"Saya pikir Bangladesh khawatir karena India mengeluarkan hampir 2 juta warga negara. Saya tidak tahu jumlah pastinya tetapi apa yang akan terjadi pada orang-orang ini?" tanya Khan.
Perang AS, Iran harus dihindari
Berbicara tentang konflik baru-baru ini antara AS dan Iran, Khan mengatakan ketegangan antara kedua negara masih terus berlangsung.
Tapi Khan mengaku puas perang antara kedua negara dapat dihindari setelah adanya upaya diplomatik.
"Kami merasa, kami telah memainkan peran dan berhasil menurunkan ketegangan. Tapi tentu saja, Anda tahu, harus ada beberapa solusi permanen yang diambil," kata Khan.
Khan juga menolak kritik terhadap Koridor Ekonomi China-Pakistan (CPEC) dan menepis kekhawatiran atas menggelembungnya utang dengan China.
"Jadi sangat tidak berdasar bahwa Pakistan akan masuk ke dalam perangkap utang China," jelas Khan.
Khan juga menjawab sejumlah persoalan yang membelit dunia Islam.
Dia mengatakan peran Pakistan adalah memadamkan konflik dan membawa pihak-pihak ke jalur perdamaian sehingga negara-negara Muslim dapat fokus mengembangkan infrastruktur.
Khan juga meminta kunjungan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang akan terbang ke Pakistan pada pertengahan Februari, dapat meningkatkan hubungan dagang kedua negara.
Menurut Khan, bidang yang bisa dilakukan Turki untuk membantu Pakistan adalah pertambangan.
Khan mengatakan Pakistan adalah negara kaya mineral, tetapi mereka belum melakukan eksplorasi emas dan tembaga.
“Kami menginginkan kerja sama teknologi. Jadi, ini akan menjadi kunjungan yang cukup komprehensif,” kata dia.
Khan ingat orang-orang Pakistan, khususnya Muslim di sub-benua India, telah membantu Turki dalam menghadapi masa-masa sulit pada 1920.
Dia menyarankan untuk merayakan 100 tahun sejarah kedermawanan ini dan hubungan antara Turki dengan Muslim di anak benua India pada 2020.
Wawancara lebih rinci akan segera ditayangkan Anadolu Agency.