Rhany Chairunissa Rufinaldo
11 Juli 2019•Update: 12 Juli 2019
Vakkas Dogantekin
ANKARA
Bea Cukai dan Perbatasan Perlindungan (CBP) Amerika Serikat pada Selasa mengatakan pihak berwenang sedang menyelidiki dugaan pelecehan seksual yang terjadi di pusat perlindungan perbatasan di Arizona setelah menerima pengaduan dari seorang migran di bawah umur.
Dilansir dari NBC News, gadis Honduras berusia 15 tahun itu mengatakan bahwa seorang petugas CBP meletakkan tangannya di dalam branya, menarik pakaian dalamnya dan meraba-raba dengan kedok pemeriksaan rutin.
Korban juga melaporkan bahwa petugas itu mempermalukannya di depan migran lain, sementara rekan-rekan yang lain ikut menyaksikan dan tertawa.
Menurut laporan Washington Post, CBP mengkonfirmasi bahwa kasus tersebut sedang diselidiki.
"Tuduhan itu tidak sejalan dengan praktik umum di fasilitas kami dan akan diselidiki sepenuhnya. Penting untuk dicatat bahwa tuduhan pelecehan seksual sudah diselidiki oleh Kantor Inspektur Jenderal Departemen Keamanan Dalam Negeri ," kata juru bicara CBP dalam sebuah pernyataan kepada harian itu.
Penganiayaan dan pelecehan seksual hanyalah sebagian dari perlakuan mengerikan lainnya terhadap para migran di pusat-pusat penahanan AS di perbatasan.
Pada Senin, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Michelle Bachelet mengatakan dia sangat terkejut dengan kondisi tersebut, merujuk pada pusat penahanan yang penuh sesak dan mengabaikan kebutuhan paling mendasar dari para migran.
"Sebagai seorang dokter anak dan juga sebagai seorang ibu dan mantan kepala negara, saya sangat terkejut melihat anak-anak dipaksa tidur di lantai dalam fasilitas yang penuh sesak, tanpa akses ke perawatan kesehatan atau makanan yang memadai, dan dengan kondisi sanitasi yang buruk," kata Bachelet dalam sebuah pernyataan.
Banyak migran dari Amerika Tengah melakukan perjalanan ratusan mil setiap tahunnya, melintasi gurun dan sungai berbahaya demi mencapai AS dalam upaya untuk melarikan diri dari kekerasan dan kemiskinan di negara asal mereka.
Pendekatan garis keras Presiden AS Donald Trump untuk imigrasi legal dan ilegal mendapat kecaman, terutama karena puluhan migran tewas akibat kelalaian pejabat dan kondisi sanitasi yang buruk saat berada di tahanan AS di pusat penahanan perbatasan.