Rhany Chairunissa Rufinaldo
11 Januari 2021•Update: 12 Januari 2021
Syed Zafar Mehdi
TEHERAN
Ketegangan antara Iran dan Korea Selatan karena penyitaan kapal tanker minyak di wilayah Teluk meningkat pada Senin setelah pembicaraan antara kedua belah pihak gagal mencapai kesepakatan.
Wakil Menteri Luar Negeri Korea Selatan Choi Jong-kun, yang tiba di Teheran pada Minggu untuk berdialog dengan rekan sejawatnya dari Iran Abbas Araqchi soal pembebasan kapal tanker yang disita.
Menurut media Iran, Araqchi mendesak Choi untuk menghindari politisasi masalah dan meminta Seoul untuk melepaskan lebih dari USD7 miliar aset Iran yang dibekukan di negara itu.
Dia mengatakan proses hukum dalam kasus kapal tanker harus diizinkan untuk dilanjutkan, dalam indikasi bahwa Teheran tidak bersedia untuk menyetujui permintaan delegasi Korea Selatan itu.
Kapal berbendera Korea Selatan Hankuk Chemi, yang membawa 7.200 ton etanol, disita oleh pasukan angkatan laut korps penjaga revolusioner elit Iran di dekat Selat Hormuz pada Jumat atas dugaan pelanggaran hukum lingkungan maritim.
Otoritas Korea Selatan telah menolak laporan tentang kemungkinan pelanggaran aturan lingkungan oleh kapal tanker itu.
Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) mengatakan kapal itu berangkat dari pelabuhan Al-Jubail di Arab Saudi dan menuju ke Korea Selatan melalui UEA.
Sebanyak 20 awak, termasuk warga negara Korea Selatan, Indonesia, Vietnam dan Myanmar, juga ditahan oleh IRGC.
Masalah aset Iran yang dibekukan di Korea Selatan telah menjadi titik yang menyebabkan perpecahan dalam hubungan bilateral kedua negara dalam beberapa tahun terakhir.
Araqchi menyebut pembekuan dana Iran di bank-bank Korea Selatan tidak dapat diterima dan mengatakan bahwa itu terjadi karena kurangnya kemauan politik Seoul, bukan sanksi AS.
Sementara itu, Choi meyakinkan para pejabat Iran bahwa memberikan akses ke dana beku mereka di bank-bank Korea Selatan adalah salah satu prioritas pemerintah Korea Selatan.
Pada Selasa, juru bicara pemerintah Iran Ali Rabiei telah menepis tuduhan bahwa penyitaan kapal tanker Korea Selatan sama dengan penyanderaan.
Insiden terbaru terjadi di tengah meningkatnya ketegasan Iran di perairan Teluk setelah AS baru-baru ini mengirim kapal perang dan kapal selam ke wilayah tersebut, menandakan eskalasi ketegangan.
Pekan lalu, Iran melakukan latihan besar pertamanya yang melibatkan drone tempur di Provinsi Semnan, disusul dengan latihan militer di wilayah Teluk.
Negara itu juga meluncurkan pangkalan rudal strategis di sepanjang pantai selatannya.