Rıskı Ramadhan
03 Juni 2018•Update: 04 Juni 2018
Fouad Mossad
ADEN, Yaman
Konflik yang tidak begitu tersorot antara pemerintah yang diakui secara internasional dan kelompok separatis selatan berkecamuk di kota pelabuhan Aden, Yaman.
Billboard dan poster yang menunjukkan dukungan terhadap pemerintah yang didukung oleh Saudi, Presiden Abd Rabbu Mansour Hadi dan Dewan Transisi Selatan (STC), yang menyerukan pemisahan Yaman selatan, muncul di jalan-jalan utama kota.
“Ini adalah konflik antara dua proyek bersaing; satu seruan untuk mempertahankan federalisme dan yang lainnya mengincar pemisahan Yaman selatan," kata analis politik Yaman Abdurrakib al-Hadyani kepada Anadolu Agency.
"Setiap pihak berusaha untuk mencapai tujuannya dan mendapatkan dukungan untuk tuntutannya," katanya.
STC berupaya mendeklarasikan pemisahan diri Yaman selatan, yang bersatu dengan Yaman utara pada tahun 1990.
Separatis selatan berjuang bersama pasukan pemerintah untuk mengusir pemberontak Houthi keluar dari Aden pada tahun 2015, sejak itu Aden menjadi pusat sementara pemerintah yang diakui secara internasional.
Yaman dilanda perang saudara sejak 2014, ketika kelompok pemberontak Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah negara, sehingga memaksa pemerintah Yaman yang diakui secara internasional melarikan diri ke Arab Saudi.
Pada 2015, Arab Saudi dan sekutunya melancarkan kampanye udara besar-besaran untuk menggulingkan pertahanan Houthi.
Konflik telah menghancurkan infrastruktur Yaman, termasuk sistem air dan sanitasi, membuat PBB menggambarkan situasi Yaman sebagai "salah satu bencana kemanusiaan terburuk di zaman modern".
Tak ada visi
Basem al-Shaabi, direktur Masarat Center for Strategy and Media yang berbasis Aden, menilai perselisihan adalah penyebab "kurangnya visi" tentang masa depan Yaman.
"Ini membuat semua pihak berusaha memaksakan tujuan mereka dengan segala cara, dengan paksa atau cara lain," kata dia kepada Anadolu Agency.
Januari lalu, separatis selatan dan pasukan pemerintah terlibat dalam bentrokan mematikan ,ketika pemerintah dituduh mendorong Yaman ke ambang kelaparan.
Al-Shaabi yakin bahwa konflik yang terjadi antara pemerintah dan separatis bersifat "sementara".
"Ini akan berakhir ketika semua pihak sepakat tentang masa depan Yaman," kata dia.
Al-Hadyani memiliki pendapat yang sama.
"Nasib suatu negara tidak dapat ditentukan oleh billboard," kata dia.
"Ini dapat diselesaikan melalui dialog serius berdasarkan basis nasional yang mempertimbangkan kepentingan tertinggi negara dan aspirasi rakyat untuk perdamaian, stabilitas, dan pembangunan," tambah dia.