Rhany Chairunissa Rufinaldo
28 Desember 2018•Update: 29 Desember 2018
Esref Musa dan Burak Karacaoglu
IDLIB, Suriah
Puluhan ribu pengungsi Suriah yang tinggal di kamp-kamp dekat perbatasan dengan Turki berjuang untuk selamat dari kondisi musim dingin yang ekstrem untuk kedelapan kalinya sejak konflik meletus pada 2011.
Karena tidak mampu membeli bahan bakar atau kayu, mereka terpaksa membakar plastik dan nilon yang asapnya menyebabkan masalah pernapasan.
Musim dingin ini, lembaga bantuan hanya mampu menyediakan alat pemanas kepada 20 persen dari jumlah pengungsi .
"Kami menghabiskan hari-hari kami di rumah sakit, atau membawa obat-obatan dari apotek. Kami tidak bisa membeli kayu atau bahan bakar, jadi kami harus membakar pakaian agar tetap hangat," Um Ahmad, seorang pengungsi wanita berusia 43 tahun, mengatakan kepada Anadolu Agency
Ahmad Abu Suleiman, warga kamp lainnya, juga menyesalkan kondisi musim dingin ekstrem yang dihadapi oleh para pengungsi.
"Di sini dingin. Anak-anak selalu sakit. Kami menggunakan apa pun yang bisa kami dapatkan untuk bahan bakar, karton, nilon, ban bekas, apa pun,” katanya.
Dia menambahkan bahwa ketika mereka tidak bisa menemukan benda lain, mereka membakar pakaian anak-anak agar tetap hangat.
Kasim Sukayr, seorang pengungsi dari kota Hama yang berusia delapan tahun, menyampaikan rasa keputusasaan yang sama.
"Kami tidak punya uang, jadi kami harus menggunakan nilon, sepatu, apa pun yang bisa kami temukan untuk bahan bakar," katanya kepada Anadolu Agency.
“Kami tidak bisa menemukan bahan bakar atau kayu. Kami tidak punya uang untuk membelinya,” ujar Selim Juneyt, seorang pengungsi berusia sepuluh tahun.
Juneyt menambahkan bahwa asap yang dihasilkan oleh pembakaran plastik telah menyebabkan saudaranya menderita masalah pernapasan.
Sementara itu, Abdul-Ghaffar Mohammed, seorang pengungsi di sebuah kamp di Hama timur, mengatakan dia merasa sangat sedih melihat anak-anak berjuang melawan musim dingin yang keras.
"Saya tidak punya uang untuk membeli roti untuk anak-anak saya, apalagi kemampuan untuk memberi mereka kehangatan. Kematian lebih mudah daripada kehidupan ini," katanya.
Abdullah Ammuri, seorang dokter di salah satu kamp, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa sebagian besar keluhan kesehatan, terutama di kalangan anak-anak dan wanita hamil, disebabkan oleh masalah pernapasan.
"Setelah mempelajari masalah ini, kami menemukan bahwa penghuni kamp menggunakan cara-cara primitif dan tidak sehat untuk menghangatkan tubuh," tambah Ammuri.
* Ali Murat Alhas berkontribusi pada berita ini dari Ankara