Shadi Khan Saif
27 Januari 2019•Update: 28 Januari 2019
Shadi Khan Saif
KABUL, Afghanistan
Pembicaraan antara AS dengan Taliban berlanjut pada hari keenam di Doha, Sabtu.
Laporan terbaru mengatakan pembicaraan itu tengah membahas jaminan internasional soal usulan perdamaian.
Saat pembicaraan meluas dari agenda dua hari pertama ke hari keenam, kedua belah pihak mempertahankan kartu yang ada, tanpa pernyataan resmi mengenai perkembangan diskusi.
Waheed Mujda, mantan pejabat era Taliban dan pakar kelompok itu, mengatakan kepada Anadolu Agency, bahwa konsensus telah dicapai soal penarikan pasukan asing dan tidak ada ancaman yang akan muncul dari seluruh dunia.
Namun, Mujda mengatakan Taliban mencari jaminan internasional untuk usulan proses perdamaian itu.
“Perjanjian di Doha belum final karena persoalan teknis dan bahasa,” kata dia.
Taliban menentang tekanan AS soal pengumuman gencatan senjata dan pembicaraan langsung dengan pemerintah Afghanistan, kata sumber yang dekat dengan kelompok militant itu kepada Anadolu Agency dengan syarat anonim karena pembatasan berbicara kepada media.
Zalmay Khalilzad, utusan AS untuk rekonsiliasi Afghanistan, mengatakan di Kabul sebelum berangkat ke Doha pekan lalu bahwa Washington akan berdiri tegak karena Kabul, dan jika Taliban ingin melanjutkan perang, Amerika akan melawan, sedang jika mereka menginginkan perdamaian, perdamaian itu akan diupayakan.
Pembicaraan di Doha itu melahirkan optimisme yang berhati-hati untuk perdamaian di Afghanistan, dengan sejumlah demonstrasi pro-gencatan senjata di pusat-pusat kota besar di seluruh negeri.
Korban jiwa terus meningkat
Dua hari sebelumnya, dalam World Economic Forum di Davos, Presiden Mohammad Ashraf Ghani mengatakan lebih dari 45.000 pasukan keamanan Afghanistan tewas sejak ia menjabat pada September 2014.
“Taliban memiliki serangkaian hubungan timbal balik yang tak tampak. Mereka memiliki relasi dengan semua kelompok teroris yang dikenal; mereka memiliki hubungan dengan mafia kriminal terbesar di dunia, yang setelah kokain adalah mafia heroin,” ujar dia.
Ghani menekankan alasan hadirnya pasukan internasional di Afghanistan bukan karena negara itu, melainkan karena insiden 9/11 yang menelan biaya USD500 miliar dari pemerintah Amerika Serikat dan masyarakat.
Pada tahun ke-18, konflik Afghanistan berevolusi menjadi perang saraf dengan meningkatnya jumlah korban di antara keempat partai, pemberontak, pemerintah, warga sipil, dan pasukan internasional.
Statistik yang dikumpulkan oleh Badan Anadolu menunjukkan setidaknya 150 pasukan keamanan, 184 warga sipil dan 14 pasukan NATO tewas, juta ratusan pemberontak bersenjata dalam serangkaian kejadian mematikan selama Desember saja.