Maria Elisa Hospita
11 Mei 2018•Update: 12 Mei 2018
Michael Hernandez
WASHINGTON
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Kamis mendesak Irak dan Israel untuk segera mengentikan "segala tindakan provokatif".
"Guterres meminta Teheran dan Tel Aviv untuk menghindari konflik baru di wilayah yang masih dirundung konflik berkepanjangan," kata juru bicaranya, Stephane Dujarric, dalam sebuah pernyataan.
Guterres juga mendesak Dewan Keamanan "untuk tetap bertanggung jawab di bawah piagam PBB" dan "menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan semua anggotanya dalam menyelesaikan masalah ini."
Tentara Israel mengklaim pasukan Iran di Suriah telah menembakkan 20 roket ke Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, dan berhasil menghalaunya dengan sistem pertahanan udara Iron Dome Israel.
Dalam pernyataan terpisah, tentara Israel juga mengklaim pesawat tempurnya telah menyerang sekitar 50 pos militer yang terafiliasi dengan Pasukan Quds Iran di wilayah Suriah.
Serangan itu merupakan serangan balasan atas roket yang ditembakkan oleh Pasukan Quds [dari wilayah Suriah] di pos-pos depan IDF di Dataran Tinggi Golan.
Menurut juru bicara militer Israel Ronen Manelis, serangan itu telah memporakporandakan pos milik Pasukan Quds dan Pengawal Revolusioner Iran di seluruh Suriah.
"Pasukan Iran akan butuh waktu berbulan-bulan untuk pulih dari serangan," kata Manelis kepada radio militer Israel.
Juru bicara itu menggambarkan serangan tersebut sebagai "salah satu serangan udara terbesar" yang dilancarkan oleh Angkatan Udara Israel dalam beberapa tahun terakhir.
Kementerian Pertahanan Rusia mengkonfirmasi serangan itu dan mengungkapkan bahwa 28 pesawat tempur F-15 dan F-16 Israel telah menembakkan 60 rudal ke pos pasukan Iran dan sistem pertahanan udara di dalam Suriah.
Sementara itu, anggota komite keamanan nasional parlemen Iran, Abolfazl Hassan Beige, menuding Israel "berbohong" mengenai serangan itu, dan menyangkal keterlibatan Iran dalam serangan rudal ke Dataran Tinggi Golan.
Pada April, Israel menghantam pangkalan udara T-4 di barat provinsi Homs, Suriah, yang menewaskan sejumlah perwira militer Iran, sehingga memicu kekhawatiran akan adanya serangan balasan dari Iran.