Rhany Chairunissa Rufinaldo
16 Juni 2020•Update: 17 Juni 2020
Mucahit Aydemir
TRIPOLI
Parlemen Libya meminta komunitas internasional untuk melakukan penyelidikan setelah lebih dari 100 mayat ditemukan di Kota Tarhuna, benteng terakhir panglima perang Khalifa Haftar, yang dibebaskan oleh tentara Libya pada 5 Juni.
Komisi Pertahanan dan Keamanan Nasionalnya mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Senin bahwa mereka menuntut tindakan hukum terhadap Haftar dan milisinya.
Mendesak organisasi hak asasi manusia dan Pengadilan Kriminal Internasional, dalam pernyataan itu, mereka mendesak pengadilan harus mengambil tindakan dan membawa para pembunuh ke pengadilan.
Libya mengumumkan bahwa mereka telah menemukan 106 jenazah, termasuk mayat wanita dan anak-anak, di sebuah rumah sakit di Tarhuna segera setelah kota itu dibebaskan dari pasukan Haftar.
Pemerintah Libya yang diakui secara internasional telah diserang oleh pasukan Haftar sejak April 2019, dengan lebih dari 1.000 orang tewas dalam kekerasan.
Pemerintah meluncurkan Operasi Badai Perdamaian pada Maret untuk melawan serangan di ibu kota dan baru-baru ini berhasil merebut kembali lokasi-lokasi strategis, termasuk pangkalan udara Al-Watiya dan Tarhuna.