Maria Elisa Hospita
13 Maret 2019•Update: 13 Maret 2019
Ahmet Gurhan Kartal
LONDON
Kesepakatan Brexit Theresa May yang baru lagi-lagi tak lolos di Parlemen Inggris karena mayoritas anggota parlemen menolak kesepakatan itu.
Penolakan itu terjadi dua bulan setelah kesepakatan yang sama ditolak oleh 230 anggota parlemen dan menjadi kekalahan terburuk bagi pemerintahan yang berkuasa sepanjang sejarah Inggris.
Selama pemungutan suara pada Selasa, 391 anggota parlemen menentang perjanjian penarikan Uni Eropa, deklarasi politik, dan tiga dokumen baru, yang menurut May “mengikat secara hukum”. Sementara itu, sekitar 242 anggota parlemen mendukung kesepakatan itu.
Sebelumnya, May diberi mandat oleh parlemen untuk merundingkan "langkah alternatif" lebih lanjut dengan pejabat Uni Eropa yang akan menggantikan opsi backstop.
Sebagai upaya terakhir, May pun berkunjung ke Strasbourg pada Senin malam.
"Perubahan yang mengikat secara hukum telah diamankan," ujar dia dalam konferensi pers bersama Presiden Dewan Eropa Jean-Claude Juncker.
Keduanya mendesak anggota parlemen Inggris untuk menyetujui kesepakatan itu.
Kelompok Penelitian Eropa (ERG), kelompok anggota parlemen yang pro-Brexit dalam Partai Konservatif May, beserta mitra de facto pemerintah dan partai terbesar Irlandia Utara, Partai Serikat Buruh Demokratik (DUP), sebelumnya mengumumkan bahwa mereka tidak akan mendukung kesepakatan itu.
Sebagian besar anggota Partai Buruh, Demokrat Liberal, dan Partai Nasional Skotlandia (SNP) juga menentang kesepakatan tersebut.
Dengan penolakan kesepakatan Brexit itu, anggota parlemen Inggris harus memilih apakah Inggris meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan atau mencabut Pasal 50, menjalani proses selama dua tahun untuk meninggalkan Uni Eropa.