Hayati Nupus
30 April 2019•Update: 30 April 2019
Michael Hernandez
WASHINGTON
Otoritas AS menahan seorang mantan prajurit infanteri negara tersebut yang berusaha mengebom sebuah demonstrasi di negara bagian California, para penyelidik mengumumkan pada Senin.
Mark Steven Domingo, 26, ditangkap pada Jumat ketika pergi ke sebuah taman di Long Beach untuk mengawasi lokasi rapat umum yang rencananya akan digelar akhir pekan lalu, kata Departemen Kehakiman dalam sebuah pernyataan.
Departemen mengatakan Domingo sebelumnya bertanya kepada seseorang yang dia kira kolaborator, namun sebenarnya informan FBI, untuk mencari pembuat bom rakitan.
Domingo diduga membeli beberapa ratus paku pekan lalu, yang akan digunakan sebagai bahan bom dan menyerahkannya kepada informan.
“Domingo mengatakan dia secara khusus membeli paku tiga inci yang cukup panjang untuk menembus tubuh manusia dan menusuk organ dalam,” menurut pernyataan tertulis.
Dia mengambil beberapa alat peledak, yang dia yakini senjata pemusnah massal, dari sumber FBI Jumat lalu, dan ditangkap di lokasi rapat umum malam itu.
“Investigasi ini berhasil mengacaukan ancaman sangat nyata yang ditimbulkan oleh seorang prajurit tempur terlatih yang berulang kali menyatakan ingin menyebabkan jumlah korban maksimum,” ujar Jaksa AS Nick Hanna dalam pernyataannya.
Sebelum memilih unjuk rasa Long Beach, Domingo mempertimbangkan untuk menyerang orang-orang Yahudi, gereja, dan petugas polisi, menurut Departemen Kehakiman.
Dia juga diduga berencana menggunakan senapan AK-47 yang telah dimodifikasi untuk menembak.
Domingo didakwa berupaya menyediakan dan memberi dukungan materi kepada teroris dan dijadwalkan akan menjalani sidang Senin nanti.
Dia terancam hukuman maksimum 15 tahun penjara.
Terkait serangan mematikan di dua masjid di Selandia Baru yang menewaskan 50 orang, Domingo menulis di media sosial “harus ada retribusi” dan mengatakan dalam unggahannya di media daring bahwa dia ingin menjadi martir.