Maria Elisa Hospita
27 September 2018•Update: 27 September 2018
Aydogan Kalabalik
KAIRO
Negosiasi trilateral antara menteri-menteri air Ethiopia, Mesir, dan Sudan terkait proyek bendungan Sungai Nil bernilai miliaran dolar tak kunjung menghasilkan konsensus.
Para menteri, yang bertemu di Addis Ababa, Ethiopia, membahas bagaimana Grand Etiopia Renaissance Dam (GERD) dapat beroperasi tanpa merugikan negara-negara terkait, meskipun pada akhirnya tidak ada kesepakatan yang dicapai.
Perundingan itu difokuskan untuk mencegah pelanggaran pembagian air Mesir dan Sudan, sekaligus tidak mengganggu pembangunan Ethiopia dan Sudan.
Semua pihak setuju untuk melanjutkan negosiasi sampai solusi yang masuk akal untuk melindungi kepentingan ketiga negara tersebut ditemukan.
Setelah Ethiopia mulai membangun bendungan pada 2011, negara-negara regional mulai membahas penggunaan air sungai.
Untuk mengatasi masalah ini, negosiasi pun dimulai antara ketiga negara. Namun, karena perbedaan pendapat, negosiasi berulang kali harus ditangguhkan.
Proyek tersebut, yang diperkirakan menelan biaya sekitar USD4,8 miliar, akan menghasilkan 6.000 megawatt listrik. Bendungan itu akan menjadi bendungan terbesar di Afrika.
Awalnya, proyek itu dijadwalkan akan selesai dalam waktu lima tahun, namun ternyata tak kunjung selesai meskipun sudah tujuh tahun berselang.
Pada April, Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed mengeluhkan penundaan dan menyalahkan kontraktor lokal yang berbasis militer.
*Ali Murat Alhas turut melaporkan dari Ankara