Rhany Chairunissa Rufinaldo
29 September 2020•Update: 29 September 2020
Busra Nur Bilgic Cakmak
ANKARA
Pemimpin NATO mengatakan pembicaraan militer teknis yang dipimpin aliansi antara Turki dan Yunani dapat membantu menyelesaikan masalah mendasar antara kedua sekutu tersebut.
Berbicara secara daring dalam acara tentang perubahan iklim, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menanggapi pertanyaan tentang ketegangan di Mediterania Timur antara Turki dan Yunani.
Stoltenberg mengatakan NATO prihatin dengan meningkatnya ketegangan antara dua sekutunya dan menambahkan bahwa aliansi telah mengambil inisiatif untuk menyatukan dua sekutu yang sangat dihargai, Yunani dan Turki, untuk duduk bersama dan melihat bagaimana semua pihak bisa mengembangkan apa yang disebut dengan mekanisme de-konflik militer.
"Ini tentang bagaimana memastikan bahwa kapal, pesawat terbang menjaga jarak yang diperlukan, berperilaku dengan cara yang bertanggung jawab. Jadi, kami mencegah, menghindari insiden dan kecelakaan. Dan selalu ada risiko dengan itu ketika Anda memiliki begitu banyak kapal di tempat yang sama di wilayah yang sama, seperti yang kita lihat di Mediterania Timur," ungkap dia.
Stoltenberg juga mengatakan pembicaraannya baru-baru ini dengan Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengarah pada dimulainya dialog teknis militer.
“Mudah-mudahan, jika kita dapat menemukan solusi, membangun mekanisme ini, maka itu dapat membantu mendukung upaya yang dipimpin Jerman untuk memfasilitasi pembicaraan tentang masalah utama yang mendasarinya," ujar dia.
Yunani terus mempermasalahkan eksplorasi energi Turki di Mediterania Timur, mencoba mengkotakkan wilayah maritim Turki berdasarkan pulau-pulau kecil di dekat pantainya.
Turki, negara dengan garis pantai terpanjang di Mediterania, telah mengirim kapal bor dengan pengawalan militer untuk mengeksplorasi energi di landas kontinennya dan menegaskan bahwa Turki dan Republik Turki Siprus Utara juga memiliki hak di wilayah tersebut.
Untuk mengurangi ketegangan, Turki menyerukan dialog untuk memastikan pembagian yang adil dari sumber daya kawasan.
Pada Selasa, Kementerian Luar Negeri Yunani mengatakan bahwa dialog tentang eksplorasi antara Turki dan Yunani Putaran ke-61 akan segera dimulai.
Perundingan eksplorasi itu terakhir diadakan di Athena pada 1 Maret 2016.
Setelah itu, perundingan bilateral dilanjutkan dalam bentuk konsultasi politik tetapi tidak kembali ke kerangka eksplorasi.