Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
13 Februari 2020•Update: 14 Februari 2020
Agnes Szucs
BRUSSELS
NATO akan mengambil peran yang lebih besar di Irak dan mengambil alih sejumlah kegiatan koalisi pimpinan Amerika Serikat melawan Daesh/ISIS.
Pernyataan itu disampaikan oleh Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg pada pertemuan menteri pertahanan di markas besar aliansi di Brussels, Rabu.
"Kita harus bisa melakukan operasi," kata Stoltenberg.
Dia mengatakan para menteri menyetujui prinsip "memperluas dan meningkatkan untuk melakukan lebih banyak" di Irak.
Stoltenberg menambahkan bahwa aliansi akan menyelesaikan rinciannya dalam beberapa bulan mendatang.
"NATO telah berkonsultasi dengan pemerintah Irak, dan aliansi militer hanya akan tetap berada di negara itu dengan persetujuan mereka," ujar dia.
Menurut Stoltenberg, NATO berfokus pada upaya mengalahkan musuh bersama, yakni Daesh/ISIS, dan memastikan mereka tidak pernah kembali.
Situasi di Suriah
Para menteri pertahanan juga membahas situasi keamanan dan kemanusiaan di Suriah barat laut pada pertemuan itu.
Stoltenberg menegaskan kembali bahwa NATO sangat prihatin dengan situasi di Idlib, yang merupakan konsekuensi dari penggunaan kekerasan yang brutal, serangan yang mengerikan terhadap warga sipil tak berdosa dan pemboman tanpa pandang bulu terhadap target sipil.
"Kami mendesak rezim Assad yang didukung Rusia untuk menghentikan semua serangan yang menewaskan warga sipil tak berdosa," tegas dia.
Mengenai situasi keamanan di Afghanistan, sekretaris jenderal NATO menegaskan bahwa aliansi tersebut sepenuhnya mendukung upaya perdamaian yang dipimpin AS.
"Sekarang tergantung pada Taliban untuk menunjukkan bahwa mereka bertujuan dan mau mengurangi kekerasan," tambah Stoltenberg.
Pada hari kedua pertemuan, Kamis, para menteri pertahanan akan membahas lebih lanjut keamanan dan stabilitas di Timur Tengah serta tanggapan aliansi terhadap penggunaan rudal Rusia.