07 Juli 2017•Update: 07 Juli 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Langkah Saudi melakukan isolasi terhadap Qatar disinyalir merupakan perpanjangtanganan kepentingan Mesir dan Israel atas Qatar. Sebab, sebenarnya Saudi tidak memiliki kepentingan langsung atas Qatar.
Direktur Eksekutif Madani Center for Development and International Studies (MACDIS) Arya Sandhiyudha justru mempertanyakan apakah ini betul-betul keinginan Saudi secara langsung atau hanya karena permintaan Mesir dan Israel.
“Saudi sedang membangun reputasi sebagai pemimpin kawasan yang paling stabil di dunia. Kemudian permintaan untuk menjadikan Ikhwanul Muslimin di Qatar sebagai organisasi terlarang dan juga HAMAS beserta tokoh-tokohnya bukan kepentingan nasional Saudi secara langsung,” ujar doktor politik internasional dari Turki ini.
Tokoh Ikhwanul Muslimin di Qatar juga bukan kombatan, melainkan tokoh spiritual seperti Syeikh Yusuf Al Qaradawi. Begitu pula dengan tokoh HAMAS Khaled Mashal yang merupakan mantan Ketua Biro Politik sehingga sebenarnya tidak berbahaya bagi kepentingan Saudi.
Arya melihat isolasi beberapa negara teluk seperti Mesir, UEA, dan Bahrain serta Saudi terhadap Qatar justru bisa berdampak pada Saudi yang akan terisolasi nantinya dari konstelasi politik internasional.
“Saudi tidak sadar ini karena Qatar mitra ekonomi utamanya adalah Britania Raya. Britania bahkan sekarang sudah mandiri dan setara dengan organisasi EU dan sudah bersikap mendukung penyelesaian masalah Qatar melalui jalur dialogis, bukan lewat isolasi,” kata Arya.
Antara pemerintah dan oposisi Britania sudah sepakat untuk mendukung eksistensi media Al Jazeera dan nilai-nilai demokrasi. Qatar juga memiliki ikatan ekonomi yang kuat dengan negara-negara Eropa dengan PDB Qatar sekitar USD 74 ribu.
“Ini harus dipertimbangkan Saudi apakah mereka sedang mengisolasi diri sendiri atau mengisolasi Qatar. Terlebih lagi posisi Qatar sebagai pangkalan utama militer AS yang merupakan pemimpin NATO.”