Furkan Naci Top
03 Mei 2018•Update: 05 Mei 2018
Furkan Naci Top
LESBOS, Yunani
Menteri imigrasi Yunani pada Rabu mengatakan kesepakatan pengungsi Turki-Uni Eropa adalah "penangkal" kebijakan yang dilakukan oleh beberapa negara Eropa yang menutup pintu terhadap pengungsi.
Berbicara di sebuah konferensi regional, Dimitris Vitsas mengecam beberapa negara Eropa yang mengabaikan kondisi kehidupan yang memburuk di kamp-kamp pengungsi.
"Penawar terhadap kebijakan negara-negara Eropa yang menutup pintu adalah kesepakatan pengungsi antara Uni Eropa dan Turki," kata Vitsas.
Dia mengatakan jumlah pengungsi di kamp yang penuh sesak akan dikurangi pada September 2018.
"Ada sebanyak 15 kamp pengungsi di pulau-pulau Yunani, termasuk Lesbos, Chios dan Samos, yang berada di atas kapasitas total kamp. Pemerintah Yunani berniat memindahkan para pengungsi ke daratan untuk meringankan beban."
Pada 2016, Turki dan Uni Eropa menandatangani kesepakatan untuk membendung aliran migrasi ilegal melalui Laut Aegea dengan mengambil langkah-langkah ketat terhadap pedagang manusia dan memperbaiki kondisi untuk hampir 3 juta pengungsi Suriah di Turki.
Kesepakatan itu juga membuka jalan untuk mempercepat keanggotaan Uni Eropa bagi Turki dan perjalanan bebas visa bagi warga negara Turki di wilayah Schengen, dengan kondisi Ankara memenuhi semua 72 persyaratan yang ditetapkan oleh UE.
Turki lama mengeluh Uni Eropa sangat lambat mengirimkan dana yang dijanjikan bagi para pengungsi dan gagal menepati kesepakatan mengenai perjalanan bebas visa.
November lalu, Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker mengatakan dukungan finansial yang dijanjikan Uni Eropa kepada Turki akan dihormati sepenuhnya.