Dunia

Mengenal Imam Abdullah Haron, aktivis anti-Apartheid Afrika Selatan

Aktivis anti-Apartheid dan pemimpin komunitas dari Afrika Selatan, Imam Abdullah Haron mengabdikan hidupnya untuk Islam

Rhany Chairunissa Rufinaldo   | 12.02.2019
Mengenal Imam Abdullah Haron, aktivis anti-Apartheid Afrika Selatan Aktivis anti-apartheid dan pemimpin agama terkemuka Afrika Selatan Imam Abdullah Haron. (Foto file - Anadolu Agency)

Ankara

Vakkas Dogantekin

ANKARA 

Imam Abdullah Haron (8 Februari 1924 - 27 September 1969) adalah seorang aktivis anti-apartheid dan pemimpin agama terkemuka di Afrika Selatan.

Sebelum wafat di dalam tahanan, dia dipenjara selama 123 hari di kantor polisi Caledon Square yang terkenal dari rezim apartheid di pusat kota Cape Town.

Sepanjang hidupnya, dia dengan berani berjuang untuk menyebarkan dan melestarikan Islam selama era apartheid rasis yang tak kenal ampun.

Abdullah Haron dibesarkan oleh bibinya setelah ibunya meninggal ketika dia berusia lima tahun dan ayahnya tidak mampu membesarkannya.

Meskipun tidak memiliki pelatihan formal di luar sekolah dasar, dia dapat membaca Al-Quran pada usia 14 tahun.

Mengabdikan hidupnya tanpa pamrih untuk pendidikan kaum muda dan komunitas, Haron mengorganisir kaum muda di daerahnya untuk membentuk Asosiasi Pemuda Muslim Claremont di Cape Town.

Tidak seperti banyak ulama Muslim lain di zamannya, Imam Haron kritis terhadap hafalan dalam Islam dan pengabdian yang tak perlu diragukan kepada para imam.

Dia memandang Islam lebih dari sekadar seperangkat ritual, melainkan cara hidup holistik, selalu menekankan bahwa para ulama Islam perlu menanggapi isu-isu kontemporer di negara itu.

Di antara inovasi progresif yang Imam Haron perkenalkan kepada jamaah Masjid Al-Jaamia di Cape Town adalah pembentukan kelompok diskusi dan kelas pendidikan khusus untuk wanita.

Sebagai satu-satunya imam di Cape Town yang menolak dibayar atas jasanya, Haron menentang keras kekejaman rezim apartheid dan tidak pernah menghindar untuk menghadapi kesulitan perjuangan.

Gerakannya sangat revolusioner di kalangan masyarakat Muslim yang pendiam dan apolitis, di mana dia pernah mengatakan bahwa meskipun memiliki seorang nabi yang revolusioner, umat Islam masih tertidur.

Dalam gerakan terorganisir pertama Muslim Cape Town dalam menentang penindasan ras dan tirani, pada 1961 dia mendirikan Call of Islam, sebuah publikasi politik yang memprotes status quo dengan dorongan Islam.

Pada 1966 dan 1968, dia pergi ke Mekah untuk beribadah haji dan menggunakan kesempatan ini untuk memberi tahu organisasi dan pemimpin Muslim yang berpengaruh tentang situasi mengerikan di Afrika Selatan.

Dia menjalin hubungan dengan komunitas-komunitas kulit hitam Afrika di sekitar area Langa dan Gugulethu di Cape Town, di mana pada saat itu hubungan Muslim dengan komunitas-komunitas ini belum pernah terjadi.

Haron membuka pikiran, menghangatkan hati dan meninggalkan warisan perjuangan yang tak tergoyahkan melawan penindas, terlepas dari seberapa kuat perjuangan tanpa ampun itu.

Dia mengajar generasi muda Muslim untuk membela keadilan sosial dan berbicara dengan berani menentang kebrutalan apartheid.

Saat ini, ribuan pemuda Muslim melestarikan warisan Imam Haron.

Menurut penelitian komprehensif Ursula Gunther berjudul "Kenangan Imam Haron dalam Mengkonsolidasikan Perlawanan Muslim dalam Perjuangan Apartheid" yang diterbitkan dalam Jurnal untuk Studi Agama, Imam Haron menjadi simbol dan ikon bagi perjuangan Muslim melawan apartheid pada akhir 1970-an, meskipun pengorbanannya hampir terlupakan. "

Seperti yang dikatakan oleh filsuf Denmark Soren Kierkegaard, "tiran mati dan pemerintahannya berakhir, martir mati dan pemerintahannya dimulai."

Mayoritas Muslim pada 1950-an dan 1960-an akan berpendapat bahwa jika seseorang tidak senang dengan pemerintah yang memerintah, mereka harus bermigrasi ke negara lain dengan cara hijrah.

Pandangan ini jauh dari pendekatan Imam Haron yang bertahan dan berjuang sampai napas terakhirnya.

Setelah kematiannya saat berada di bawah pengawasan polisi di Cape Town, hasil autopsi mengungkapkan bahwa dia menderita pendarahan internal dan terdapat 28 luka memar di tubuhnya - kebanyakan di kakinya - dengan perut kosong dan tulang rusuk patah.

Dia hidup demi Allah dan mati untuk melayani hamba-hamba-Nya.

Sama seperti lilin yang membakar dirinya sendiri untuk menerangi orang lain, wafatnya Imam Haron juga terus menerangi jalan kita hingga saat ini.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın