Muhammad Abdullah Azzam
27 Februari 2019•Update: 28 Februari 2019
Ahmet Dursun
ANKARA
Sebuah harian yang dikenal dengan kedekatannya dengan kelompok reformis di Iran ditutup sementara.
Harian itu telah mengkritik kunjungan pemimpin rezim Suriah Bashar al-Assad ke Teheran.
Kantor Berita mahasiswa Iran ISNA mengatakan, Pengadilan Kebudayaan dan Media di Teheran mengeluarkan kebijakan larangan publikasi sementara kepada harian Kanun yang dikenal dekat dengan kubu reformis di negara tersebut.
Laporan ISNA itu menyebut bahwa keputusan larangan itu menyusul dengan konten headline yang dimuat pada Selasa, di mana harian tersebut mengkritik kunjungan Assad ke Iran.
Belum ada informasi lebih lanjut mengenai durasi larangan tersebut.
Harian Kanun mengkritik kunjungan tersebut dengan sebuah artikel berjudul “Tamu tak diundang” serta dilengkapi oleh foto Assad dengan pemimpin Agung Iran Ali Khamenei dan Presiden Hassan Rouhani kemarin Senin di ibu kota.
Media pemerintah Iran melaporkan pasar saham Teheran menuai reaksi penurunan tajam pasca-pengunduran diri Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif.
Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif pada Senin mengumumkan pengunduran dirinya melalui Instagram.
"Saya dengan tulus meminta maaf atas layanan yang tidak bisa saya lakukan dan semua kekurangan selama saya menjabat sebagai menteri luar negeri," kata Zarif, seraya menambahkah bahwa dia tidak bisa lagi menjalankan tugasnya.
"Saya berterima kasih kepada bangsa Iran dan menghargai para pejabat atas kebaikan yang mereka perlihatkan selama 67 bulan terakhir," ujar dia.
Menurut laporan dari sebuah website berita di Iran "Entekhab", Menlu Iran Javad Zarif menanggapi melalui pesan singkat pertanyaan koresponden situs berita tersebut.
Zarif berkata, "Setelah tersebar foto-foto foto pertemuan hari ini, kini Javad Zarif tak memiliki reputasi lagi di dunia sebagai Menteri Luar Negeri."
Menurut berita dari Kantor Berita Mahasiswa Iran (ISNA), dalam pesannya itu Zarif mengisyaratkan pertemuan Assad dengan pemimpin Agung Iran Ali Khamenei dan Presiden Hassan Rouhani kemarin Senin di ibu kota.
Anggota Komite Ketua Parlemen Iran, Ali Riza Rahimi menanggapi keputusan pemunduran Zarif itu.
"Tak ada Zarif yang kedua. Sebaliknya, orang yang akan menggatikannya hanya akan mematuhi pemerintah yang berbahaya atau menghancurkan banyak hal atas nama revolusi," ungkap Rahimi.
“Jika pengunduran diri Zarif berhasil, maka tusukan belati dari pihak oposisi pun sukses. Besok, kita akan membahas refleksi pengunduran diri Zarif di parlemen," tutur Rahimi.
Komandan Korps Pengawal Revolusi Islam di Iran Mayor Jenderal Qasem Soleimani ikut berfoto di dalam pertemuan yang tak dihadiri oleh Zarif itu.