Maria Elisa Hospita
06 Februari 2018•Update: 07 Februari 2018
Andrew Wasike
Nairobi, KENYA
Massa memadati jalanan di Nairobi, Kenya, pada Senin, untuk memprotes media blackout yang telah berlangsung selama lima hari.
Massa yang terdiri dari jurnalis dan aktivis memprotes pemerintah atas pemblokiran tiga stasiun televisi yang pekan lalu menyiarkan upacara pengambilan sumpah pemimpin oposisi Raila Odinga sebagai presiden.
Pemblokiran saluran KTN, NTV, dan Citizen News masih berlanjut meskipun pengadilan pada Kamis telah meminta untuk menghentikan pemblokiran tersebut.
"Pengadilan telah mendesak pemerintah untuk mencabut larangan namun pemerintah masih melanggarnya. Kami bergantung pada media untuk mengetahui apa saja yang terjadi di negara kami," ujar Mary Mwebia, partisipan demo, kepada Anadolu Agency.
Aksi protes kemudian dibubarkan oleh polisi dengan menyemprotkan gas air mata.
Beberapa demonstran yang bergerak menuju kantor Kementerian Dalam Negeri kemudian mengajukan petisi untuk menghentikan kekerasan polisi.
Juma Otieno, seorang pemrotes mengkritik polisi karena menggunakan kekerasan terhadap demonstran yang menyuarakan protes dengan "damai".
"Kami berhak untuk memprotes. Kami berada di sini demi kebebasan media. Pemerintah juga seharusnya membebaskan pimpinan oposisi Jenderal Miguna," tegas dia.
Pemerintah pada Selasa menetapkan Gerakan Perlawanan Nasional (NRM) Kenya sebagai kelompok kriminal yang terorganisir, beberapa jam setelah inaugurasi Odinga.
Oktober lalu, Odinga membentuk NRM dari gerakan politik Aliansi Super Nasional (NASA) untuk menekan Presiden Uhuru Kenyatta agar mengundurkan diri, sekaligus mendesak pemilihan umum darurat.