Chandni
19 April 2018•Update: 19 April 2018
Mohamed al-Tahiri
RABAT
Sebuah pelatihan yang digelar pada Rabu di Maroko bertujuan mengajari staf-staf penjara "cara menghadapi tahanan dan mencegah penyiksaan".
Acara satu hari itu berfokus untuk "meningkatkan kapasitas staf penjara dalam hal mencegah penyiksaan dan menghadapi tahanan" dan diselenggarakan dengan kerja sama Kedutaan Belanda di Rabat.
Pelatihan itu "ingin menggenjot kemampuan staf lembaga pemasyarakatan dalam hal mencegah penyiksaan dan sikap brutal dan tidak manusiawi", kata Mohamed Saleh Tamek, salah satu sipir penjara.
Kegiatan ini, kata Tamek, adalah bagian dari proyek untuk mempromosikan budaya HAM dalam pengelolaan penjara sehari-hari.
Dalam beberapa kesempatan, penjara-penjara Maroko, staf, dan pasukan keamanan dituduh menyiksa dan menganiaya tahanan sehingga sering diprotes oleh warga.
Pekan lalu, Nasser Zafzafi, pemimpin gerakan Al-Arif, mengatakan bahwa dia "dipermalukan" serta "mengalami penganiyaan fisik dan psikis" dalam penjara.
Pemerintah Maroko mengatakan "pengadilan harus bertanggung jawab penuh" dalam memverifikasi klaim Zafzafi dan harus menyelidiki itu untuk "mengungkapkan kebenaran".