Muhammad Abdullah Azzam
17 Maret 2021•Update: 18 Maret 2021
Omer Koparan, Ethem Emre Ozcan
AL-BAB, Suriah
Seorang anak laki-laki asal Suriah hidup dalam ketakutan dan kecemasan sejak dia kehilangan setengah dari kaki kirinya dalam serangan pasukan rezim Bashar al-Assad lima tahun lalu.
Perang saudara di Suriah yang dimulai 10 tahun lalu telah menyebabkan hampir 12.000 anak Suriah tewas atau terluka, menurut laporan baru pada Selasa dari UNICEF.
Badan PBB yang menangani anak-anak memperingatkan dalam sebuah pernyataan bahwa perang telah menyebabkan kehidupan dan masa depan generasi anak-anak tergantung pada seutas benang, dengan hampir 90 persen anak-anak membutuhkan bantuan kemanusiaan, dan situasi "genting" bagi anak-anak dan keluarga mereka.
Lebih dari 500.000 anak di bawah usia lima tahun menderita malnutrisi karena kekurangan gizi kronis, kata laporan itu.
Lebih dari dua juta anak putus sekolah, 40 persen di antaranya perempuan.
UNICEF juga mengatakan jumlah anak yang menunjukkan gejala gangguan psikososial meningkat dua kali lipat pada 2020, dari paparan terus menerus terhadap kekerasan, syok, dan trauma.
Perang saudara telah mendorong anak-anak Suriah pada trauma yang akan memiliki konsekuensi jangka panjang, kata UNICEF.
Mohammad Ahmad, 10, dari provinsi Idlib hanyalah satu dari jutaan anak yang menjadi korban perang.
Ahmad kehilangan setengah dari kaki kirinya dalam serangan udara rezim saat bermain di dekat rumahnya di Idlib pada 2015.
Dia telah dirawat selama berbulan-bulan di rumah sakit di Idlib setelah serangan itu.
Neneknya Maryam Ahmad, 62 tahun, telah merawatnya selama lima tahun terakhir.
Ahmad dan neneknya bermigrasi ke kamp al-Azraq di kota al-Bab di pedesaan Aleppo pada 2019 setelah rezim Assad dan Rusia melancarkan serangan hebat di Idlib.
Tak mampu mengatasi trauma psikologis yang dialaminya lima tahun lalu, ketakutan terbesar Ahmad adalah suara bom dan pesawat.
"Saya berusia 5 tahun ketika saya terluka. Kaki saya terkena pecahan peluru saat saya bermain," kata bocah berusia 10 tahun itu kepada Anadolu Agency.
"Nenek membawa saya ke rumah sakit. Saya melihat kaki saya putus. Sekarang saya menggunakan kruk untuk berjalan,” tutur dia.
“Saya masih takut dengan suara ledakan. Saya merasa sangat takut ketika mendengar suara pesawat atau senjata. Beberapa hari yang lalu, sebuah ranjau meledak di sini. Saya lari ke nenek saya dan bersembunyi di belakangnya,” ujar dia.
Saat perang saudara Suriah memasuki tahun ke-11, serangan rezim Assad dan para pendukungnya telah menimbulkan luka yang dalam pada jutaan warga sipil.
Suriah dilanda perang saudara sejak awal 2011, ketika rezim Assad menindak protes pro-demokrasi dengan keganasan yang tak terduga.
Selama dekade terakhir, ratusan ribu orang telah tewas dan lebih dari 10 juta mengungsi, menurut otoritas PBB.