Muhammad Abdullah Azzam
18 Juli 2018•Update: 19 Juli 2018
Mustafa Deveci
YERUSALEM
Sekitar 200 pengungsi yang melarikan diri dari serangan rezim Bashar al-Assad di Kota Daraa dan Quneitra terpepet ke wilayah perbatasan Israel.
Menurut pernyataan juru bicara militer Israel kepada koresponden Anadolu Agency, para pengungsi Suriah yang melarikan diri dari rumah-rumah mereka akibat serangan-serangan rezim kini terpojok ke wilayah pendudukan Israel di Dataran Tinggi Golan.
Menurut pernyataan tersebut, tentara Israel tidak akan mengizinkan 200 pengungsi, di antaranya adalah wanita dan anak-anak, yang berada dekat dengan perbatasan tersebut memasuki Israel.
Para pengungsi Suriah tersebut berjalan menuju perbatasan Israel dengan bendera putih di tangan mereka. Namun mereka terpaksa kembali setelah mendapat peringatan dari tentara Israel untuk tidak mendekati perbatasan.
Terkait dengan serangan rezim di Daraa, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pihaknya akan terus mengirimkan bantuan kemanusiaan dan melindungi batas-batas negaranya. Kendati demikian, Netanyahu menyatakan dia tidak akan mengizinkan para pengungsi yang kabur dari serangan rezim di Daraa memasuki Israel.
Pasukan rezim dan para pendukungnya berhasil mengambil alih wilayah Daraa di barat daya Suriah dari tangan para oposisi 10 Juni lalu.
Pada 20 Juni, pasukan Rusia juga memulai serangan-serangan udara di daerah tersebut.
Kota-kota di wiliayah Daraa dan Quneitra di barat daya Suriah merupakan bagian dari empat titik zona de-eskalasi yang telah ditetapkan oleh negara-negara penjamin, Turki, Iran dan Rusia pada KTT Astana, Mei 2017 lalu.
Pasukan rezim mulai maju ke wilayah perbatasan Israel pasca keberhasilan mereka mengambil alih sebagian besar wilayah Kota Daraa di perbatasan Yordania.