Muhammad Abdullah Azzam
18 Juli 2018•Update: 19 Juli 2018
Mohamad Misto, Levent Tok
QUNEITRA/ANKARA
Rezim Bashar al-Assad memperluas wilayah kendalinya ke arah perbatasan Israel.
Sebanyak 10 warga sipil yang tengah berlindung di sebuah sekolah di Quneitra menjadi korban serangan pasukan rezim di wilayah perbatasan Israel tersebut.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari koresponden Anadolu Agency di Quneitra, pasukan rezim dan para pendukungnya saat ini mulai meringsek maju ke wilayah perbatasan Israel.
Sebelumnya, militer rezim Assad telah berhasil mengambil alih sebagian besar wilayah Daraa, kota di sebelah barat daya Suriah yang berbatasan dengan Yordania.
Pesawat milik rezim menjatuhkan bom di Desa Ain al-Tinah di wilayah Quneitra yang berbatasan dengan Israel. Bom tersebut jatuh di atas sebuah sekolah dan menewaskan sedikitnya 10 warga sipil yang sebagian besar merupakan anak-anak.
Pasukan rezim juga berhasil mengambil kendali tiga titik pemukiman di jalur menuju Quneitra, sebelah barat Kota Daraa pasca serangan-serangan sengit kemarin.
Pasukan oposisi hingga kini masih menguasai sebagian besar wilayah Quneitra yang berbatasan dengan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.
Organisasi teroris Daesh juga masih menunjukan keberadaannya di Kota Tasil di bagian selatan wilayah perbatasan tersebut.
Rezim dan para pendukungnya memulai operasi pada 20 Juni lalu dengan bantuan angkatan udara Rusia. Pada 6 Juli, pihak oposisi dan Rusia telah menandatangani perjanjian gencatan senjata permanen yang mencakup wilayah-wilayah selatan Suriah.
Dalam perjanjian tersebut disebutkan juga bahwa Rusia dan pasukan rezim akan mempermudah warga yang ingin bermigrasi dari Daraa menuju wilayah-wilayah di utara Suriah.
Pasca gencatan senjata, pasukan rezim dan para pendukungnya berhasil mengambil alih 85 persen wilayah di perbatasan Yordania. Konvoi pertama yang membawa para kelompok oposisi dan warga sipil telah mengevakuasi 700 orang ke Idlib kemarin Minggu.
Kota-kota di wiliayah Daraa dan Quneitra di barat daya Suriah merupakan bagian dari empat titik zona de-eskalasi yang telah ditetapkan oleh negara-negara penjamin, Turki, Iran dan Rusia pada KTT Astana, Mei 2017 lalu.
Rusia, Amerika Serikat dan Yordania mengambil alih Daraa dan Quneitra dengan perjanjian khusus dua bulan kemudian. Setelah itu Amerika Serikat memotong pengiriman bantuan kepada para oposisinya di wilayah tersebut.