Dunia

Kelompok aktivis: Produsen senjata India pasok teknologi ke Myanmar

Menurut Justice for Myanmar (JFM), pengiriman setelah kudeta militer kemungkinan bagian dari sistem pengawasan pantai yang dirancang BEL untuk militer Myanmar

Devina Halim   | 14.06.2021
Kelompok aktivis: Produsen senjata India pasok teknologi ke Myanmar Polisi anti huru hara Myanmar menahan orang-orang yang memprotes kudeta militer di Yangon, Myanmar pada 26 Februari 2021. ( Stringer - Anadolu Agency )

Jakarta Raya

JAKARTA

Produsen senjata yang saham mayoritasnya dimiliki pemerintah India, Bharat Electronics Limited (BEL), memasok teknologi radar kepada rezim kudeta Myanmar.

Berdasarkan laporan Justice for Myanmar (JFM), Senin, kelompok aktivis tersebut menemukan setidaknya tujuh pengiriman ke Myanmar, kebanyakan merupakan komponen radar.

Menurut JFM, pengiriman setelah kudeta militer tersebut kemungkinan bagian dari sistem pengawasan pantai yang dirancang BEL untuk militer Myanmar.

Sejumlah barang yang dikirim BEL ke Myanmar sejak kudeta militer yakni sistem elektro optik, sistem komunikasi VHF, baterai, komponen lainnya, serta menara 15 meter.

JFM mengungkapkan, seluruh pengiriman BEL dikirim ke Direktorat Pengadaan melalui Yangon dari depot peti kemas di Jaipur dan Bangalore, India, dalam kurun waktu 27 Februari-29 Maret 2021.

Dalam laporannya, JFM mengatakan sistem pengawasan pantai tersebut berdasarkan perjanjian teknis yang ditandatangani Perdana Menteri India Narendra Modi saat berkunjung ke Myanmar pada 2017.

Menurut JFM, penandatangan perjanjian tersebut juga di tengah kampanye genosida yang dilakukan militer Myanmar terhadap kelompok Rohingya.

Juru Bicara JFM Yadanar Maung menyayangkan tindakan BEL yang memprioritaskan Myanmar sebagai pasar luar negeri.

JFM sekaligus mengkritik langkah BEL mengoperasikan kantor di Yangon untuk mendukung bisnis mereka dengan kartel kriminal militer.

“Pemerintah India memberikan legitimasi kepada junta melalui bisnis BEL di Myanmar, memungkinkan kampanye teror nasional terhadap warga Myanmar,” ungkap Yadanar dalam keterangannya, Senin.

Adapun BEL, menutur JFM), memiliki kerja sama dengan sejumlah perusahaan Uni Eropa yakni, SAAB (Swedia), Thales (Perancis/Belanda), Terma (Denmark), serta Beretta and Elettronica (Italia).

Diketahui, Uni Eropa menerapkan embargo senjata, peralatan militer, teknologi komunikasi dan barang lainnya terhadap Myanmar.

Berdasarkan informasi yang diperoleh JFM, perusahaan Thales telah mentrasfer peralatan radar ke Myanmar.

“Ini dapat melibatkan pelanggaran atas embargo senjata UE terhadap Myanmar, mengingat sistem pengawasan pantai dapat digunakan untuk represi,” kata JFM dalam laporannya.

JFM mencatat BEL juga memiliki kerja sama dengan Israel Aerospace Industries dan Elbit Systems (Israel).

Pemerintah India memiliki mayoritas saham BEL sebesar 51 persen.

Sementara, pemegang saham internasional dari BEL yakni Goldman Sachs (AS), Nippon Life Insurance (Jepang), Mirae Asset Financial Group (Korea Selatan), Dimensional Fund Advisors (AS), Franklin Templeton (AS), Norges Bank Investment Management (Norwegia), Ninety One (Inggris), the Vanguard Group (AS), dan BNP Paribas (Perancis).

JFM mendesak pemegang saham, perusahaan mitra BEL sekaligus pemerintah mereka segera mengakhiri bisnis BEL dengan militer.

Menurut JFM, hal ini menunjukkan pentingnya embargo senjata secara global terhadap Myanmar.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın