Rhany Chairunissa Rufinaldo
12 November 2019•Update: 12 November 2019
Barry Ellsworth
TRENTON, Kanada
Kanada memuji upaya Gambia membawa Myanmar ke pengadilan untuk menjawab tuduhan genosida terhadap minoritas Rohingya.
"Kanada menyambut baik pengajuan Gambia ke Mahkamah Internasional mengenai permohonan untuk melembagakan proses terhadap Pemerintah Myanmar atas dugaan pelanggaran Konvensi Genosida," kata Menteri Luar Negeri Chrystia Freeland dalam sebuah pernyataan, Senin .
Gambia mengatakan telah mengajukan aplikasi sebanyak 46 halaman atas nama Organisasi Kerjasama Islam, yang mewakili 57 negara Muslim.
Jika pengadilan memutuskan untuk memproses kasus tersebut, ini akan menjadi pertama kalinya Mahkamah Internasional menyelidiki sendiri klaim genosida, bukan hanya mengandalkan kesaksian dari pengadilan lain.
“Langkah ini akan membantu memajukan pertanggungjawaban atas genosida, yang mencakup tindakan pembunuhan massal, diskriminasi sistemik, ujaran kebencian dan kekerasan seksual berbasis gender terhadap Rohingya, termasuk kekerasan yang terjadi pada Agustus 2017, yang memaksa lebih dari 740.000 Rohingya melarikan diri ke Bangladesh dan memicu pendirian kamp pengungsi terbesar di dunia,” kata Freeland.
Dia mengatakan bahwa Kanada akan bekerja sama dengan negara-negara yang berpikiran sama untuk mengakhiri impunitas bagi mereka yang dituduh melakukan kejahatan paling berat di bawah hukum internasional.
"Bersama dengan mitra kami, kami akan mengeksplorasi opsi untuk mendukung Gambia dalam upaya ini, dengan bantuan dari Utusan Khusus Kanada untuk Myanmar, Yang Terhormat Bob Rae," ujar Freeland.
Dia menambahkan bahwa Kanada berkomitmen untuk mengatasi akar penyebab krisis dan memastikan bahwa Rohingya terlibat penuh dalam pengembangan solusi ini.
"Memastikan bahwa para pelaku kekejaman diminta pertanggungjawaban sangat penting untuk memberikan keadilan bagi para korban dan penyintas," tutur Freeland.
Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan yang terus meningkat sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada 2012.
Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya dibunuh oleh tentara Myanmar.
Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar sementara 113.000 lainnya dirusak.
Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017.