Rhany Chairunissa Rufinaldo
05 November 2020•Update: 06 November 2020
Mohamed Majid
GAZA, Palestina
Sindikat Jurnalis Palestina mengatakan pada Rabu bahwa Israel telah membunuh lebih dari 46 jurnalis Palestina sejak pecahnya Intifadah Al-Aqsa pada 2000.
Pernyataan itu disampaikan dalam unjuk rasa yang digelar di luar markas besar PBB di Jalur Gaza pada Hari Internasional untuk Mengakhiri Impunitas untuk Kejahatan Terhadap Jurnalis.
Tahseen al-Astal, wakil ketua sindikat, meminta PBB untuk memikul tanggung jawabnya dalam melindungi jurnalis dan menuntut para pelaku kejahatan terhadap jurnalis Palestina.
"Sindikat menghitung setiap tahun antara 500 dan 700 serangan pendudukan [Israel] dan kejahatan terhadap jurnalis Palestina dan inilah waktunya bagi kejahatan ini untuk dihentikan dan diminta pertanggungjawaban dari mereka yang melakukannya dan mereka yang mengeluarkan perintah," kata al-Astal.
Dia menekankan bahwa pelanggaran Israel terhadap jurnalis bertujuan untuk membungkam dan mencegah citra pers faktual tersampaikan kepada dunia.
Israel memiliki sejarah panjang dalam menargetkan jurnalis.
Komite Perlindungan Jurnalis yang bermarkas di New York telah mendokumentasikan 17 kasus yang dikonfirmasi terkait jurnalis yang tewas di Israel dan wilayah Palestina yang diduduki sejak 1992.
Dari jumlah tersebut, 15 di antaranya tewas akibat tembakan Israel.
Tahun 2014 adalah tahun paling berdarah bagi jurnalis di Palestina, di mana Israel melakukan serangan besar terakhirnya terhadap Gaza yang diblokade dan menewaskan lebih dari 2.200 warga Palestina.
* Bassel Barakat berkontribusi pada berita ini dari Ankara.