Muhammad Abdullah Azzam
12 September 2018•Update: 13 September 2018
Betül Yürük
PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA
Dewan Keamanan PBB mengadakan pertemuan untuk untuk membahas hasil dari KTT Rusia, Turki dan Iran di Teheran serta membicakan perkembangan yang terjadi di Idlib.
Berbicara di pertemuan tersebut, perwakilan tetap Inggris untuk PBB, Karen Pierce mengatakan, DK PBB harus membuat pilihan antara mendukung penyerangan rezim Assad dan Rusia ke Idlib atau memerangi para teroris bersama Turki.
Pierce menuturkan bahwa Turki memiliki rencana untuk menumpas teroris di Idlib, yaitu pada saat pasukan oposisi memerangi teroris, rezim Assad tidak akan menyerang mereka.
Mengacu pada artikel Presiden Erdogan yang dimuat di Wall Street Journal soal Idlib, Karen Pierce berkata, ''Saya pasti setuju dengan Presiden Erdogan.”
Perwakilan tetap AS untuk PBB, Nikki Haley mengatakan, Rusia dan rezim Assad menggunakan bom barel dan roket dalam serangan di Idlib, mereka juga menyerang rumah sakit di sana.
Haley menjelaskan bahwa pasukan rezim melancarkan serangan double-strike yang sangat kejam. Yakni mereka melakukan serangan ganda pada suatu tempat untuk menyerang mereka yang memberikan pertolongan kepada para korban serangan pertama.
“Ini bukan taktik militer yang profesional, ini adalah taktik teroris yang membuat perut mual," ujar dia.
Haley mengatakan bahwa Rusia seharusnya tidak membuang-buang waktunya soal perdamaian di Suriah.
Haley menekankan bahwa Rusia memiliki kekuatan untuk menghentikan bencana kemanusiaan di Idlib.
Haley berkata, "Setiap serangan di Idlib akan meningkatkan ketegangan. Jika Assad, Rusia dan Iran masih melanjutkan serangan ini, maka masalah ini akan berakhir serius dan dunia akan meminta pertanggungjawaban dari mereka."
Haley mengatakan bahwa proses Astana gagal menghentikan kekerasan dan tak dapat mendukung proses politik.
Perwakilan Tetap Perancis untuk PBB, François Delattre, mengatakan bahwa negaranya tidak akan mendukung untuk rekonstruksi negara itu tanpa adanya solusi politik di Suriah.