Muhammad Abdullah Azzam
03 November 2020•Update: 03 November 2020
Sayed Khodaiberdi Sadat
KABUL, Afghanistan
Sedikitnya 19 mahasiswa dan guru tewas dan 22 lainnya terluka ketika penyerang tak dikenal pada Senin menyerbu Universitas Kabul di ibu kota Afghanistan setelah beberapa ledakan dan baku tembak.
Saksi mata mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa beberapa penyerang bersenjata memasuki gedung universitas di Kabul sekitar pukul 11.00 melalui gerbang utara, menyebabkan kekacauan, dan sejumlah mahasiswa berusaha melarikan diri.
"Mereka mulai menembak tanpa pandang bulu ke semua orang yang mereka lihat," kata seorang saksi mata.
Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Tariq Arian mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa serangan itu berakhir sekitar pukul 17.00 di mana ketiga penyerang tewas.
"Serangan teroris keji di Universitas Kabul berakhir dengan tewasnya ketiga teroris. Dalam insiden ini, amat disayangkan 19 orang tewas dan 22 lainnya luka-luka," kata dia dalam sebuah pernyataan.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Akmal Samsor mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa sebagian besar yang terluka, banyak dalam kondisi kritis, dilarikan ke Rumah Sakit Umum Ali Abad di dekatnya.
Belum ada klaim tanggung jawab langsung dari pihak tertentu. Namun, Taliban melalui pernyataannya membantah terlibat dalam insiden tersebut.
Wakil Presiden Afghanistan Amrullah Saleh menyalahkan militan Taliban atas pertumpahan darah di negara itu, menyebut serangan ini sebagai "kegagalan intelijen."
Serangan itu terjadi saat pameran buku digelar oleh penerbit Afghanistan dan Iran sedang berlangsung di Universitas Kabul.
Pemerintah, PBB, dan Turki mengutuk serangan
Serangan itu dikecam oleh pemerintah Afghanistan, mitra internasionalnya, dan kelompok hak asasi manusia.
Seorang juru bicara Presiden Mohammad Ashraf Ghani mengatakan "musuh" [Taliban] melakukan serangan itu setelah menghadapi kekalahan di provinsi Helmand, menambahkan bahwa kekalahan itu "menunjukkan ketidakstabilan dengan menyerang tempat pendidikan itu.”
Misi Bantuan PBB di Afghanistan mengatakan bahwa tak ada pembenaran untuk melancarkan kekerasan yang mengerikan di sekolah atau perguruan tinggi.
Turki juga mengutuk serangan tersebut, dan kedutaan besarnya di Kabul mengatakan terorisme tidak memiliki agama, etnis atau kebangsaan.
Kementerian Luar Negeri Pakistan dalam sebuah pernyataan juga mengutuk serangan itu dan menyampaikan simpati terdalam serta belasungkawa sepenuh hati kepada keluarga korban dan berharap penyembuhan segera bagi yang terluka.
Pekan lalu, setidaknya 24 mahasiswa tewas dalam serangan serupa yang diklaim ISIS di sebuah lembaga pendidikan di daerah Dasht-e-Barchi di ibu kota, sebuah daerah dengan populasi besar minoritas Syiah Hazara.