Dunia

Haftar berjanji menghormati inisiatif gencatan senjata Libya

Setelah pembicaraan dengan menteri luar negeri Jerman, komandan pemberontak Libya menerima undangan untuk menghadiri Konferensi Berlin

Hayatı Nupus   | 17.01.2020
Haftar berjanji menghormati inisiatif gencatan senjata Libya Sebuah foto pesawat tak berawak memperlihatkan pemandangan udara dari lingkungan Ramla di Tripoli di mana bentrokan hebat terjadi sebelum perjanjian gencatan senjata antara Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) Libya yang diakui PBB dan komandan militer pemberontak Renegade Komandan militer Libya Khalifa Haftar pada 16 Januari 2020 di Libya. (Hazem Turkia - Anadolu Agency)

Berlin

BERLIN

Komandan Libya Khalifa Haftar berjanji untuk menghormati inisiatif gencatan senjata oleh Turki dan Rusia, setelah pertemuannya dengan menteri luar negeri Jerman di Benghazi pada Kamis.

Dalam unggahan di Twitter, Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mengatakan Haftar telah menerima undangan pemerintah Jerman untuk menghadiri konferensi perdamaian Libya di Berlin pada Minggu esok.

“Jenderal Haftar telah mengisyaratkan kesiapannya berkontribusi pada keberhasilan Konferensi Libya di Berlin dan bersedia untuk berpartisipasi. Dia telah kembali menyatakan komitmennya untuk mengawasi gencatan senjata,” kata dia.

Jerman berupaya mengajak negara-negara yang peduli pada masalah Libya dalam Konferensi Berlin, seiring upaya mencapai gencatan senjata permanen dan membuka jalan bagi solusi politik konflik tersebut.

Pada 12 Januari, pihak-pihak yang bertikai atas konflik Libya mengumumkan gencatan senjata.

Ini merupakan tanggapan atas seruan bersama oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Tetapi pembicaraan gencatan senjata permanen pada Senin berakhir tanpa kesepakatan, setelah Haftar meninggalkan Moskow dan meminta untuk berkonsultasi dengan suku-suku Libya setempat selama dua hari.

Sementara kepala Pemerintah Libya yang diakui PBB untuk Kesepakatan Nasional (GNA) Fayez al- Sarraj menandatangani perjanjian gencatan senjata itu.

Pada April, Haftar melancarkan serangan untuk merebut Tripoli yang mendapat kecaman internasional.

Menurut PBB, lebih dari 1.000 orang tewas sejak awal operasi dan sekitar 5.000 lainnya terluka.

Sejak penggulingan mendiang penguasa Muammar Khaddafi pada 2011, Libya terpecah menjadi dua kekuasaan: satu di sebelah timur dengan dukungan Mesir dan Uni Emirat Arab, sedang lainnya di Tripoli, yang memperoleh pengakuan PBB serta kalangan internasional.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın