Ekip
03 Maret 2018•Update: 04 Maret 2018
İlkay Güder, Ali Kemal Akan, Zehra Aydın
BAMAKO, Mali
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Jumat mengatakan bahwa sasaran utama kelompok teroris Daesh, al-Qaeda dan Boko Haram adalah umat Muslim.
Dalam konferensi pers gabungan dengan Presiden Mali Ibrahim Boubacar Keita, di Bamako, Erdogan mengkritik sikap negara-negara barat terhadap terorisme, dan mendesak mereka untuk "lebih sensitif" dalam menanggapi masalah ini.
"Siapapun yang mengasosiasikan kelompok teroris dengan agama atau etnis tertentu berarti masuk ke pusaran permainan teroris," ujar Erdogan.
Presiden Turki juga membahas soal operasi kontrateror yang sedang berlangsung di wilayah Afrin, barat laut Suriah. Menurut dia, sejauh ini, sebanyak 2.348 teroris telah 'ditaklukkan' oleh militer Turki dan Tentara Pembebasan Suriah.
Erdogan bertekad untuk melanjutkan operasi kontraterorisme hingga semua teroris diberantas dari wilayah itu.
Pada 20 Januari, Turki melancarkan Operasi Ranting Zaitun untuk mengusir teroris YPG/PKK-Daesh dari Afrin.
Menurut Staf Militer Turki, operasi kontrateror tersebut bertujuan untuk mewujudkan keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan dan seluruh wilayah Turki, sekaligus melindungi penduduk Suriah dari kekejaman dan penindasan teroris.
Operasi tersebut dilaksanakan di bawah kerangka hak-hak Turki yang berdasar kepada hukum internasional, resolusi Dewan Keamanan PBB, hak pertahanan diri di bawah Piagam PBB, dengan menghormati integritas teritorial Suriah.
Militer dan otoritas Turki menyatakan bahwa sasaran satu-satunya operasi ini adalah teroris, dan keselamatan penduduk menjadi prioritas utamanya.
Delapan kesepakatan bilateral
Selama kunjungan resminya ke negara-negara Afrika Barat, Erdogan mendiskusikan sejumlah permasalahan bilateral dengan Presiden Keita, termasuk masalah energi, perkembangan infrastruktur, dan hubungan militer dan pertahanan.
Kedua pemimpin negara juga menandatangani delapan kesepakatan bilateral untuk berbagai sektor, termasuk olahraga, pendidikan, teknologi, kesehatan, energi, keagamaan, dan pertambangan.
Pada 2017, Turki menyediakan peralatan untuk pasukan keamanan dan pertahanan Mali sesuai dengan komitmen perdamaian yang disepakati dalam kerangka kerja Rencana Aksi Turki-Mali.
Erdogan juga mengatakan bahwa perusahaan Turki akan berkontribusi terhadap peningkatan kapasitas energi Mali.