Rıskı Ramadhan
10 April 2018•Update: 10 April 2018
Muhammet Emin Avundukluoglu
ANKARA
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa pelaku serangan kimia di daerah Douma di Ghouta Timur, Suriah, akan membayar "harga yang mahal", Selasa.
"Saya mengutuk pelaku pembantaian ini," kata Erdogan dalam pidato di Parlemen Turki.
"Mereka yang melakukan pembantaian ini pasti akan membayar harga yang mahal," ujar Erdogan.
Pasukan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad meluncurkan serangan gas beracun ke distrik Douma di Ghouta Timur pada Sabtu malam. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 78 warga sipil, menurut badan pertahanan sipil setempat, White Helmets.
Operasi di Afrin
Erdogan menyampaikan bahwa 4.071 teroris telah dilumpuhkan sejak dimulainya Operasi Ranting Zaitun di wilayah Afrin, Suriah.
"Jumlah teroris yang dilumpuhkan di Afrin sampai pagi ini adalah 4.071. Di Irak utara, 337 teroris [PKK] telah dilumpuhkan," kata Erdogan.
"Perjuangan kami [melawan terorisme] akan terus berlanjut sampai tidak ada teroris yang tersisa," tambah dia.
Turki pada 20 Januari meluncurkan Operasi Ranting Zaitun untuk membasmi teroris YPG/PKK dan Daesh dari Afrin. Pada 18 Maret, Pasukan Turki dan Tentara Pembebasan Suriah membebaskan kota Afrin, yang telah menjadi persembunyian utama teroris YPG/PKK sejak 2012.
Menurut Staf Umum Turki, Operasi Ranting Zaitun bertujuan untuk membangun keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan Turki dan wilayah itu, serta melindungi masyarakat Suriah dari kekejaman dan penindasan teroris.
Pada kesempatan yang sama, Erdogan juga mengkritik demonstrasi kelompok teror YPG/PKK di negara-negara Eropa. Dia mengatakan bahwa Eropa telah menjadi "taman bermain untuk teroris".
“Kami lelah melihat teroris yang kami cari di gunung, berada di jalanan Eropa,” kata Erdogan.
PKK yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa, telah melancarkan kampanye teror terhadap Turki selama lebih dari 30 tahun dan bertanggung jawab atas kematian hampir 40.000 orang.
Lebih dari 1.200 personil keamanan Turki dan warga sipil, termasuk sejumlah wanita dan anak-anak tewas sejak kelompok itu melanjutkan kampanye bersenjatanya melawan Turki pada 2015.