Hayati Nupus
03 Oktober 2019•Update: 03 Oktober 2019
Ankara
Idlib, Suriah, tengah menghadapi kehancuran bertahap, seperti Aleppo yang dilanda perang, ujar Presiden Turki pada Selasa.
Recep Tayyip Erdogan melontarkan pernyataan itu dalam konferensi pers setelah bertemu dengan Perdana Menteri Ceko Andrej Babis di kompleks kepresidenan di Ankara, ibu kota Turki.
“Turki tak mengusir dan menutup pintu bagi para pengungsi, tapi kami akan senang jika dapat membantu pembentukan zona aman [di Suriah],” kata Erdogan.
Sabtu lalu, Presiden Turki mengatakan di Istanbul bahwa negaranya akan menerapkan rencana aksi, jika tentara Turki tak tak diizinkan untuk mengendalikan zona aman di Suriah.
Dalam tiga pekan, di sela-sela sesi Majelis Umum PBB, Turki akan menggunakan kemungkinan terakhir untuk memperoleh titik kompromi dengan AS dalam membangun zona aman di sepanjang garis timur Sungai Eufrat, kata dia.
Sejak 2016, Turki telah menggelar dua operasi militer besar di barat laut Suriah—Operasi Perisai Eufrat dan Cabang Zaitun—untuk membersihkan wilayah dari kelompok teroris Daesh dan YPG, yang merupakan cabang suriah dari organisasi teroris PKK.
Dalam lebih dari 30 tahun kampanye teror melawan Turki, PKK—yang terdaftar sebagai organiasi teroris oleh Turki, AS dan Uni Eropa—bertanggung jawab atas kematian sekitar 40.000 orang, termasuk perempuan, anak-anak dan bayi.
Perdana Menteri Ceko Andrej Babis mengapresiasi proposal Erdogan soal zona aman Suriah, dengan mengatakan: “Turki tak menginginkan uang tapi zona aman dengan sekolah, rumah dan investasi di dalamnya.”
Terkait hubungan bilateral dengan Turki, Babis mengatakan volume perdagangan kedua negara dapat ditingkatkan.
Perdana Menteri Ceko menekankan potensi kerja sama yang besar antara kedua negara, terutama di bidang industri energi dan pertahanan.
“Kami ingin menyaksikan perusahaan Turki di negara kami,” kata Babis, menyebutkan peluang di area konstruksi.