Necva Tastan
06 Februari 2024•Update: 09 Februari 2024
ASHDOD, Israel
Para pemukim ekstremis Yahudi di Israel pada Senin memblokir bantuan kemanusiaan internasional yang masuk ke Jalur Gaza.
Kelompok ekstremis Yahudi berkumpul di dekat Pelabuhan Ashdod, sekitar 38 kilometer arah utara Jalur Gaza, tempat lebih dari dua juta penduduk Palestina bergulat dengan krisis kemanusiaan yang semakin parah, termasuk kelaparan, kekurangan air bersih, dan tempat tinggal.
Di dekat polisi Israel yang sedang berjaga, para pemukim menghentikan truk yang berangkat dari pelabuhan, memeriksa dokumen dan memeriksa isi kargo dan tujuannya.
Salah satu pemukim, seorang warga Yahudi di Yerusalem, mengatakan dia datang bersama keluarganya untuk menghentikan truk yang memasok oksigen ke kelompok perlawanan Palestina Hamas di Gaza.
"Gaza adalah sebuah negara. Ini tanahnya, itu sebuah negara. Semua warga Gaza, menurut pihak kami adalah teroris," kata seorang pemukim Yahudi.
Meski ada peringatan dari kelompok hak asasi manusia dan LSM kemanusiaan bahwa “bencana kemanusiaan” sedang terjadi di Gaza, pemukim Yahudi itu tetap menuduh bahwa bantuan tersebut, termasuk makanan dan bahan bakar, disalurkan ke Hamas.
“Mengapa kami harus mengirimkan makanan dan bahan bakar ke Gaza? Ini tidak normal… Tidak normal jika di negeri kami, orang-orang menembak kami,” tambah dia.
Sharon mengklaim bahwa setelah serangan lintas batas Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober, orang-orang di Gaza “turun ke jalan dan menari.”
"Mereka tidak sedih atas apa yang terjadi. Islam tidak menyukai kita. Oke. Jadi sekarang saatnya untuk membalasnya," ungkap dia.
Ditanya tentang seruan otoritas Israel untuk mendirikan pemukiman ilegal Yahudi di Jalur Gaza, Sharon mengatakan, "Kami akan sangat senang jika akan ada permukiman di Gaza... Gaza adalah kota Yahudi 2.000 tahun yang lalu, 500 tahun yang lalu."
Pemukim Yahudi ekstremis telah menggelar aksi untuk menghalangi bantuan kemanusiaan yang dikirim ke Jalur Gaza bagi warga Palestina yang menghadapi kelaparan, kekurangan air bersih, dan tempat berlindung.
Menurut survei televisi Channel 12 Israel, 72 persen warga Israel menentang pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza tanpa pemulangan tawanan Israel dari Jalur Gaza.
Israel melancarkan serangan mematikan di Gaza menyusul serangan kelompok Palestina Hamas pada 7 Oktober, menewaskan sedikitnya 27.478 warga Palestina dan melukai 66.835 lainnya, sementara hampir 1.200 warga Israel diyakini tewas dalam serangan Hamas.
Serangan Israel telah menyebabkan 85 persen penduduk Gaza menjadi pengungsi di tengah kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan, sementara 60 persen infrastruktur di wilayah kantong tersebut telah rusak atau hancur, menurut PBB.