Nicky Aulia Widadio
28 Agustus 2019•Update: 29 Agustus 2019
JAKARTA
Dua orang warga sipil tewas dalam unjuk rasa yang berujung ricuh di Kabupaten Deiyai, provinsi Papua, berdasarkan data yang dihimpun oleh Polri dan TNI.
“Korban dari pihak massa dua orang, akibat terkena tembakan di kaki dan terkena panah,” ujar Kepala Penerangan Kodam Cendrawasih Letkol Cpl Eko Daryanto, melalui pesan tertulis, Rabu.
Korban yang terkena tembakan di kaki meninggal dunia setelah dievakuasi ke rumah sakit. Satu korban sipil lainnya tewas akibat terkena panah di halaman kantor Bupati Deiyai, tempat massa menggelar unjuk rasa.
Dengan demikian total tiga orang terkonfirmasi tewas, termasuk satu personel TNI dalam unjuk rasa itu.
Lima personel TNI-Polri lainnya terluka akibat terkena panah dan parang.
Unjuk rasa di Deiyai pada pukul 13.00 waktu setempat digelar di depan Kantor Bupati Deiyai dengan jumlah massa pada awalnya hanya sekitar 100 orang.
Kronologi versi TNI
Para pengunjuk rasa mengecam kasus rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur, yang terjadi pada 16-17 Agustus 2019 lalu.
Eko Daryanto mengatakan koordinator aksi tersebut adalah Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) wilayah Deiyai, Stevanus Pigai.
Sekitar pukul 14.00 WIT, massa aksi datang lebih banyak sekitar 1.000 orang yang muncul dari beberapa wilayah dan berkumpul di lapangan Wagete, Kabupaten Deiyai.
“Mereka membawa senjata tradisional panah, parang dan batu yang selanjutnya bergerak menuju Kantor Bupati Deiyai,” jelas Eko.
Massa kemudian melempari aparat keamanan dan Kantor Bupati hingga akhirnya kondisi massa tidak terkendali.
Menurut Eko, massa juga menyerang aparat keamanan dengan panah dan parang.
“Juga terdengar tembakan dari arah massa,” ujar dia.
Sejumlah aksi unjuk rasa berlangsung di berbagai wilayah Papua dan Papua Barat dalam dua minggu terakhir terkait peristiwa di Surabaya.
Sejumlah aksi unjuk rasa digelar di berabagai wilayah di Papua dan Papua Barat selama dua minggu belakangan setelah kasus pengepungan mahasiswa di Asrama Papua, Surabaya pada 16-17 Agustus lalu.
Pengepungan itu dipicu oleh informasi adanya perusakan bendera Papua di depan asrama tersebut. Lontaran bernada rasis muncul saat pengepungan itu.
Para pendemo di Papua mengecam tindakan rasis dan diskriminatif terhadap mahasiswa saat pengepungan tersebut. Seruan untuk referendum juga muncul dari para pengunjuk rasa.
Mereka juga telah menggelar aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka di Jakarta sambil membawa atribut Bintang Kejora yang merupakan simbol kemerdekaan Papua.
Belakangan, polisi telah menetapkan satu orang tersangka dari salah satu organisasi masyarakat terkait kasus rasisme di Surabaya.