Rhany Chairunissa Rufinaldo
12 November 2019•Update: 12 November 2019
Bayram Altug
JENEWA
Pembicaraan antara Turki dan para pejabat dari Badan Pengungsi PBB (UNHCR) di Jenewa tentang pemulangan sukarela pengungsi Suriah pada Senin membuahkan hasil, kata seorang pejabat Turki.
“Situasi ini tidak berkelanjutan lagi. Jadi, kami bertemu hari ini sebagai dua delegasi, sebagai dua tim. Kami membahas masalah ini dalam diskusi yang panjang dan bermanfaat,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Turki Yavuz Selim Kiran kepada Anadolu Agency.
Kiran mengatakan Turki bersedia menjadi tuan rumah pertemuan kedua.
Dia mengatakan bahwa Turki memandang Forum Pengungsi Global yang akan diadakan di Jenewa pada 17-18 Desember sebagai langkah penting untuk mencegah keterlambatan forum donor internasional atas pengembalian pengungsi Suriah secara sukarela.
"Kami ingin bergerak cepat. Menimbulkan beban pengungsi hanya di beberapa negara bukanlah situasi yang berkelanjutan, tertahankan dan dapat ditoleransi," tambah Kiran.
Dia menekankan bahwa Turki telah mengambil langkah-langkah teladan dan melakukan upaya besar atas masalah ini.
Wakil Menteri Luar Negeri itu juga mengatakan bahwa Turki telah menghabiskan lebih dari USD40 miliar (sekitar Rp560 triliun) untuk para pengungsi di negaranya.
"Keabsahan dan keharusan kembalinya para pengungsi sudah tidak perlu dipertanyakan lagi," tegas Kiran.
Suriah telah terkurung dalam perang saudara yang ganas sejak awal 2011, ketika rezim Bashar al-Assad menindak protes pro-demokrasi dengan kekerasan.
Sejak itu, lebih dari 5 juta warga sipil menjadi pengungsi, di mana Turki menampung 3,6 juta di antaranya, lebih banyak dari negara mana pun di dunia.