Dunia

China keluarkan visa untuk diplomat AS hadiri Olimpiade Beijing

AS dan beberapa sekutu telah mengumumkan boikot diplomatik Olimpiade Musim Dingin atas kekhawatiran hak asasi manusia di China

Riyaz Khaliq Khaliq   | 20.01.2022
China keluarkan visa untuk diplomat AS hadiri Olimpiade Beijing Ilustrasi (Foto file - Anadolu Agency)


ISTANBUL

China telah mengeluarkan visa untuk pejabat Amerika Serikat (AS), termasuk banyak yang memiliki paspor diplomatik, untuk menghadiri Olimpiade Musim Dingin di Beijing, kata Kementerian Luar Negeri China pada Rabu.

"Pihak China telah memberikan visa kepada beberapa anggota tim AS yang terdiri dari pejabat pemerintah," ungkap juru bicara kementerian Lijian Zhao.

“Delegasi AS untuk Olimpiade Musim Dingin Beijing terdiri dari sejumlah besar pejabat pemerintah, termasuk dari Departemen Luar Negeri, dan banyak dari mereka memegang paspor diplomatik atau dinas,” tutur Zhao.

Washington bulan lalu mengumumkan boikot diplomatik terhadap Olimpiade Musim Dingin, dan mengatakan tidak akan mengirim delegasi resmi karena kekhawatiran tentang catatan masalah hak asasi manusia China.

Australia, Inggris, Kanada, dan Jepang telah bergabung dengan keputusan boikot AS tersebut, sementara Denmark dan Belanda mengatakan pekan lalu bahwa mereka tidak akan mengirim delegasi resmi ke Olimpiade, yang akan dimulai pada 4 Februari.

Beijing membantah melakukan kesalahan dan menyebut tuduhan pelanggaran hak sebagai "virus politik" yang digunakan oleh Barat untuk memfitnah China.

'Slovenia menentang prinsip Satu China'

Pejabat Kementerian Luar Negeri China menyatakan “terkejut” atas langkah Slovenia untuk menjalin hubungan dengan Taiwan.

Dia mengatakan Beijing "sangat menentang pernyataan berbahaya" dari Perdana Menteri Slovenia Janez Jansa, yang mengatakan dalam sebuah wawancara baru-baru ini bahwa negara Eropa ingin memperkuat hubungan perdagangan dengan Taiwan dan menyebut pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu sebagai "negara demokratis."

Lijian mengatakan Jansa “secara terang-terangan menantang prinsip Satu China” dengan menyuarakan dukungan untuk “kemerdekaan” Taiwan.

Taiwan telah bersikeras pada kemerdekaannya sejak 1949, sementara China menganggap pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu sebagai "provinsi yang memisahkan diri."

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın