Rhany Chairunissa Rufinaldo
09 November 2020•Update: 10 November 2020
Jeyhun Aliyev, Burak Bir, Merve Aydogan
ANKARA
Presiden Azerbaijan mengumumkan pada Minggu bahwa Kota Shusha telah dibebaskan dari pendudukan pasukan Armenia.
"Setelah 28 tahun, adzan akan terdengar di Shusha," kata Ilham Aliyev mengatakan dalam sebuah pidato.
Shusha - yang diduduki oleh pasukan Armenia sejak 8 Mei 1992 - memiliki peran penting dalam membebaskan Nagorno-Karabakh, yang secara internasional diakui sebagai wilayah Azerbaijan.
Kota itu terletak di jalan menuju Khankendi, kota terbesar di kawasan itu.
Menekankan bahwa 8 November akan tetap menjadi hari penting dalam sejarah Azerbaijan, Aliyev mengatakan Shusha bukan hanya mutiara Azerbaijan tetapi juga seluruh Kaukasus.
"Sejarah ini akan hidup selamanya. Ini adalah tanggal kemenangan gemilang kami. Dan kami memenangkan kemenangan ini di medan perang, bukan di meja perundingan," ungkap dia.
Presiden menekankan bahwa Azerbaijan telah memperkuat ekonomi dan tentaranya selama beberapa tahun terakhir.
"Kami membuktikan kepada dunia bahwa Upper Karabakh adalah tanah bersejarah Azerbaijan," ujar dia.
Aliyev, mengucapkan selamat kepada bangsa Azerbaijan, mengatakan ini adalah salah satu hari paling bahagia dalam hidupnya dan bahwa pawai kemenangan berlanjut.
"Jika kepemimpinan Armenia tidak menanggapi tuntutan kami [penarikan pasukan pendudukan dari wilayah itu], kami akan melanjutkannya sampai akhir," tegas dia.
Sebelum berpidato, Aliyev dan ibu negara Mehriban Aliyeva memperingati gugurnya pahlawan Azerbaijan yang mengorbankan hidup mereka untuk kemerdekaan negara dan integritas wilayah serta meletakkan karangan bunga di tugu peringatan.
Keduanya juga mengunjungi Gang Kehormatan dan meletakkan karangan bunga di makam mendiang Presiden Haidar Aliyev dan lainnya.
"Darah korban Khojaly tidak sia-sia, para martir kami dibalas. Kami membalas dendam di medan perang," kata kepala negara.
Khojaly memiliki makna yang dalam dalam konflik puluhan tahun antara Armenia dan Azerbaijan.
Setelah pembubaran Uni Soviet, pasukan Armenia merebut Kota Khojaly pada 26 Februari 1992 setelah menggempurnya dengan tank dan tembakan artileri berat, dibantu oleh resimen infanteri.
Sebanyak 613 orang, termasuk 106 wanita, 63 anak-anak dan 70 lansia, tewas di Khojaly, yang sebelumnya dihuni oleh 7.000 orang.
Sekitar 487 orang, termasuk 76 anak-anak, terluka parah, sementara 150 dari 1.275 warga Azerbaijan yang ditangkap Armenia selama pembantaian itu hingga saat ini masih hilang.
Selain kepentingan strategisnya, Shusha dikenal sebagai salah satu simbol sejarah dan budaya Azerbaijan. Banyak musisi dan cendekiawan Azerbaijan lahir di sini.
Konflik Karabakh
Gencatan senjata yang kedua di Nagorno-Karabakh dimulai pada 27 September.
Hubungan antara kedua negara bekas Uni Soviet itu tegang sejak 1991, ketika militer Armenia menduduki Upper Karabakh, wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional.
Sekitar 20 persen wilayah Azerbaijan berada di bawah pendudukan ilegal Armenia selama hampir tiga dekade.
OSCE Minsk Group - diketuai bersama oleh Prancis, Rusia, dan Amerika Serikat - dibentuk pada 1992 untuk menemukan solusi damai atas konflik tersebut, tetapi upaya itu tak kunjung berhasil.
Gencatan senjata kemudian disetujui pada 1994.
Sejumlah resolusi PBB serta organisasi internasional telah menuntuk penarikan pasukan pendudukan dari wilayah tersebut.