Maria Elisa Hospita
23 Maret 2018•Update: 24 Maret 2018
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada Kamis mengatakan bahwa AS tidak berniat untuk meninggalkan Manbij meskipun Turki telah bertekad untuk mengusir teroris YPG/PKK dari Manbij, di Suriah utara.
"Pasukan AS ditempatkan di Manbij. Kami telah menyampaikan sejelas-jelasnya pada pemerintah Turki bahwa kami akan terus beroperasi di sana," kata Heather Nauert saat konferensi pers.
Nauert juga mengatakan, diskusi dengan Ankara belum selesai dan Washington bersedia melanjutkan pembicaraan untuk menyelesaikan masalah antara kedua negara.
Pada 20 Januari, pasukan Turki melancarkan operasi militer untuk memberangus kelompok-kelompok teroris dari Afrin, yang berhasil dibebaskan pada pekan lalu.
Ankara sempat menyebutkan kemungkinan untuk memperluas operasinya sampai ke Manbij, kecuali jika teroris PYD / PKK meninggalkan kota strategis tersebut.
Dukungan militer AS untuk PYD / PKK teroris di Manbij telah memicu ketegangan antara Ankara dan Washington, dan telah menyebabkan kekhawatiran akan potensi bentrokan antara dua pasukan sekutu NATO.
Turki dan AS telah membentuk komite kerja untuk membahas stabilisasi Manbij dan mencegah bentrokan yang tidak diinginkan. Namun semenjak Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mundur, masa depan Manbij jadi terkatung-katung.
AS sejak lama mendukung SDF, yang dianggap Ankara sebagai cabang PYD/PKK di Suriah, yang telah melancarkan perang ke Turki selama lebih dari 30 tahun, dan telah menewaskan puluhan ribu jiwa.
Ankara menentang keras dukungan AS, apalagi Washington memandang SDF sebagai "mitra yang dapat diandalkan" dalam perjuangannya melawan Daesh, dan terus-menerus mempersenjatainya.