Riyaz ul Khaliq
14 Maret 2022•Update: 17 Maret 2022
ISTANBUL
Perang Rusia terhadap Ukraina kemungkinan akan menjadi pembahasan utama pertemuan Senin antara pejabat kunci AS dan China di Roma.
Yang Jiechi, kepala urusan luar negeri Partai Komunis China yang berkuasa, akan bertemu Jake Sullivan, penasihat keamanan nasional presiden AS.
Sementara Washington dan sekutunya telah memberlakukan sanksi ekonomi yang berat terhadap Moskow, di sisi lain Beijing membatasi diri untuk mengutuk Rusia dalam perang di Ukraina dan sebaliknya menekankan dialog menyelesaikan konflik.
Ini adalah pertemuan tingkat atas pertama antara AS dan China sejak Presiden China Xi Jinping mengadakan pertemuan virtual dengan Joe Biden November lalu.
Kedua belah pihak akan bertukar pandangan tentang hubungan China-AS dan isu-isu internasional dan regional yang menjadi perhatian bersama, menurut Kementerian Luar Negeri China.
Di Washington, juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS Emily Horne mengatakan agenda pertemuan mencakup upaya berkelanjutan untuk mengelola persaingan antara kedua negara dan dampak perang Rusia melawan Ukraina pada keamanan regional dan global.
Zhao Lijian, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, menegaskan pada konferensi pers di Beijing bahwa China “menentang sanksi sepihak AS, dan akan dengan tegas melindungi hak dan kepentingan sah perusahaan dan individu China.”
“AS menyebarkan disinformasi tentang China dalam krisis Ukraina,” jawab Zhao, ketika ditanya tentang laporan yang menyebut Moskow meminta pasokan senjata dari Beijing.
“China bersedia memainkan peran konstruktif dalam mendorong negosiasi” antara Moskow dan Kiev, tambahnya.