Hedaya al-Saeedi
04 Juni 2018•Update: 05 Juni 2018
Hedaya al-Saeedi
KOTA GAZA, Palestina
Para analis meyakini bahwa bias Amerika Serikat terhadap Israel mendorong negara tersebut untuk melancarkan serangannya ke warga Palestina yang tak berdaya.
"Israel akan berhenti menyerang Palestina jika Washington menghentikan dukungannya ke Israel," kata Akram Attalah, seorang pengamat politik Palestina, Minggu.
Jumat lalu, AS memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengutuk kekerasan Israel dan menyerukan "perlindungan bagi rakyat Palestina" di Gaza dan Tepi Barat.
Sepuluh negara telah memberikan suara untuk mendukung resolusi usulan Kuwait, sementara Inggris, Polandia, Belanda dan Ethiopia memilih abstain.
"Israel akan membatasi tindakannya ke Palestina jika AS tidak menggunakan veto," ujar Attallah.
Menurut dia, veto AS justru memberi lampu hijau pada Israel untuk melanjutkan agresinya terhadap Palestina.
"Israel tahu bahwa mereka tidak akan dihukum oleh komunitas internasional dan Dewan Keamanan PBB tidak akan mengeluarkan kecaman apapun selama pemerintahan Trump menggunakan hak veto itu," tambah Attalah.
Draf resolusi menyerukan “pertimbangan langkah-langkah untuk menjamin keselamatan dan perlindungan warga sipil Palestina di Wilayah Pendudukan Palestina, termasuk di Jalur Gaza”.
Sejak Maret, lebih dari 120 warga Palestina tewas dan ribuan lainnya terluka karena ditembak tentara Israel selama protes anti-pendudukan di perbatasan Gaza-Israel.
Kekebalan
Seorang pengamat politik Palestina mengatakan, veto AS memberikan kekebalan bagi Israel terhadap tuntutan pembunuhan ratusan pengunjuk rasa di sepanjang perbatasan Gaza.
"Ini menjadi jaringan pengaman untuk Israel dan perlindungan atas setiap tuntutan," kata Walid al-Mudalal, seorang profesor ilmu politik di Universitas Islam di Gaza.
Dia mengatakan dukungan Amerika yang tak tergoyahkan untuk Israel dimulai sejak tahun 1940-an. “Namun, dukungan ini telah mencapai puncaknya dengan pemerintahan AS saat ini,” tegas dia.
AS telah menggunakan veto lebih dari 40 kali terhadap resolusi pro-Arab dan Palestina sejak Dewan Keamanan PBB didirikan pada 1945.
Tahun 1972, Washington menggunakan hak veto pertama kalinya untuk mendukung Israel membatalkan resolusi PBB yang mengutuk serangan di Lebanon.
Kemudian tahun 1988, AS menggunakan delapan veto untuk membatalkan resolusi PBB terhadap Israel.
"Sejak dia berkuasa, Trump berpartisipasi dalam kejahatan Israel atas Palestina," kata Mekhaimar Abu Saada, profesor ilmu politik di Al-Azhar University, Gaza.
Menurut Saada, administrasi Trump tidak akan menjadi "mediator yang adil" dalam perundingan damai antara Palestina dan Israel.
"Veto AS untuk membatalkan resolusi demi perlindungan Palestina adalah lampu hijau bagi Israel untuk melakukan kejahatan baru terhadap rakyat Palestina," tandas dia.