Dunia

Anak-anak Palestina di Turki yang rindu tanah air

Meski merindukan Palestina, anak-anak itu menyebut Turki sebagai rumah kedua

Hayati Nupus   | 06.04.2019
Anak-anak Palestina di Turki yang rindu tanah air Anak Palestina, Obaida Shehada, mengungsi ke Ankara dari Suriah tujuh tahun lalu bersama orang tuanya, berpose untuk difoto di Ankara, Turki pada 5 April 2019. (Muhammed Selim Korkutata - Anadolu Agency)

Ankara

Ali Abo Rezeg

ANKARA

Anak-anak Palestina yang tinggal di ibukota Turki di Ankara, menyatakan kerinduan mereka akan tanah air pada Jumat, sekaligus menandai Hari Anak Palestina yang diperingati setiap 5 April.

Obaida Shehada, 11, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa dia merindukan rumahnya yang berada di Jalur Gaza yang diblokade.

Tujuh tahun lalu, Obaida bergabung dengan keluarganya di Turki, tempat ayahnya melanjutkan pendidikan untuk meraih gelar PhD.

Setelah fasih berbahasa Turki, Obaida menyebut negara Ottoman itu sebagai “rumah kedua”.

Bocah berusia 11 tahun itu menyuarakan simpati kepada sesama warga Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza yang terus hidup dengan pendudukan dan kepungan Israel.

“Banyak keluarga dan teman saya di sana; saya amat iba pada mereka,” kata dia. “Semoga Allah menolong mereka.”

Saat ditanya nama kota di Palestina, dia memulainya dengan menyebut Yerusalem, yang dia deskripsikan sebagai “ibukota Palestina”.

“Saya juga ingat Gaza, Rafah, Jaffa dan Al-Khalil,” ujar dia.

Soal cita-cita, Obaida menjawab dengan mata bersinar: “Saya ingin menjadi pilot.”

Dia berharap kelak di negaranya akan ada bandara, “di negara saya, Palestina.”

Bandara Palestina pertama pasca-pendudukan dibuka pada 1998. Namun bandara ini hancur oleh pasukan Israel setelah Intifada [pemberontakan] Palestina kedua, yang pecah pada akhir 2000.

- Mengungsi terpisah

Lujain, 11 dan saudaranya, Laith, 12, tiba di Ankara dari Suriah dua tahun lalu, tempat mereka bersama orang tuanya tinggal di dekat Damaskus.

Kepada Anadolu Agency, Um Laith, ibu mereka, meratap: “Banyak pengungsi Palestina yang mengungsi terpisah. Generasi pertama mencari perlindungan di Suriah, sementara kami–generasi baru–menemukan tempat berlindung di Turki.

Laith, yang datang ke Turki bersama keluarga, mengatakan dia merindukan Suriah, juga teman-temannya–di Suriah maupun Palestina–yang masih di sana.

“Saya lahir di Suriah; saya belum pernah ke Palestina,” ungkap dia. “Tapi orang tua saya menceritakan soal itu; soal tempat kakek tinggal sebelum diusir Israel pada 1948.”

Terkait sekolahnya saat ini di Turki, Laith, yang tengah belajar bahasa Inggris, mengatakan: “Saya memiliki dua harapan: menjadi guru bahasa Inggris dan ingin melihat situasi di Suriah dan Palestina menjadi lebih baik.”

Saudara perempuannya, Lujain, bercita-cita menjadi guru Matematika.

Lujain mengatakan dia senang tinggal di Turki, baru-baru ini dia mulai belajar bahasa negara tersebut di sekolah.

“Bahasa Turki itu mudah,” tukas dia, sambil tersenyum. “Ada banyak kata-kata Arabnya.”

Menurut PBB, sekitar 526.000 pengungsi Palestina tinggal di Suriah sebelum perang meletus pada 2011.

Dari jumlah itu, sekitar 280.000 dialihkan karena konflik, ujar LSM Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Mediterania dalam laporannya.

Menurut LSM tersebut, sekitar 160.000 pengungsi Palestina meninggalkan Suriah dan pergi ke negara-negara tetangga–termasuk Turki–sejak perang meletus pada 2011.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın