Rhany Chairunissa Rufinaldo
19 Mei 2020•Update: 20 Mei 2020
Enes Canli
TRIPOLI
Sebuah tim dari Anadolu Agency melakukan tur di pangkalan udara strategis Al-Watiya, yang telah direbut kembali oleh Tentara Libya pada Senin pagi, setelah diduduki oleh panglima perang Khalifa Haftar selama bertahun-tahun.
"Pangkalan itu dibebaskan dalam waktu yang sangat singkat setelah operasi diluncurkan pada pagi hari," kata Kolonel Mohammad Dava dari Departemen Operasi Barat Angkatan Darat.
Dia mencatat bahwa sistem pertahanan udara Pantsir buatan Rusia disita dari milisi dan akan dipindahkan ke pangkalan pemerintah Libya.
Tentara Libya mengambil foto di depan sistem pertahanan udara Pantsir, yang telah dipasok oleh Uni Emirat Arab (UEA) ke milisi.
Anggota pers dibawa ke pangkalan setelah melalui pemeriksaan keamanan.
Banyak kendaraan militer, van dan pesawat terbang di hangar yang hancur selama serangan udara tentara dengan kendaraan udara tak berawak.
Al-Watiya dianggap sebagai pangkalan udara utama di negara itu.
Pangkalan udara tersebut diduduki oleh Haftar, komandan bersenjata yang berbasis di Libya Timur, sejak Agustus 2014.
Milisi Haftar menggunakannya sebagai markas untuk operasi di wilayah-wilayah barat.
Pasukan Haftar melancarkan serangan ke pemerintah Libya sejak April 2019, hingga menewaskan lebih dari 1.000 orang.
Pemerintah Libya kemudian meluncurkan Operasi Badai Perdamaian pada 26 Maret untuk melawan serangan-serangan di ibu kota.
Sejak penggulingan pemerintahan Muammar Khaddafi pada 2011, dua poros kekuasaan yang saling bersaing muncul di Libya, satu di Libya Timur yang didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan satu lagi di Tripoli yang mendapat pengakuan PBB dan internasional.