Muhammad Abdullah Azzam
10 Juli 2018•Update: 10 Juli 2018
Ayse Sumeyra Aydogdu
MA'ARIB
Sebanyak 53 pelanggaran terjadi terhadap awak pers di Yaman pada semester pertama tahun 2018, menurut laporan Pengawas Kebabasan Pers yang berafiliasi dengan Komite Pengawasan Sosial Ekonomi (SEMC).
Semester pertama tahun 2018 di Yaman ditandai dengan kematian delapan wartawan dan serangan-serangan terhadap awak media.
Selain pembunuhan terhadap delapan wartawan, laporan tersebut juga menyebutkan beberapa pelanggaran berupa ancaman, kekerasan fisik, penculikan dan penyerangan terhadap kantor-kantor media.
Laporan itu juga menyatakan, meskipun aktor terbesar pada pelanggaran tersebut adalah kelompok Houthi, namun pasukan pro-pemerintah dan koalisi di bawah pimpinan Arab Saudi juga telah melakukan pelanggaran terhadap para wartawan.
Laporan tersebut juga menyebut bahwa kebabasan pers di Yaman selama beberapa tahun terakhir semakin memburuk. Menurut laporan tersebut, perlindungan hak para korban dan rasa aman telah hilang.
Laporan itu juga menuduh hukum telah memihak para pelaku di balik peristiwa-peristiwa penyerangan tersebut.
Yaman dilanda perang saudara sejak 2014, ketika kelompok pemberontak Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah negara, sehingga memaksa Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional melarikan diri ke Arab Saudi.
Pada 2015, Arab Saudi dan sekutunya melancarkan kampanye udara besar-besaran untuk menggulingkan pertahanan Houthi.
Menurut PBB, perang saudara Yaman telah menewaskan lebih dari 10.000 jiwa dan menyebabkan lebih dari 11 persen dari keseluruhan populasi mengungsi.