Ekonomi, Berita analisis, Regional

Menguji kekuatan APEC di tengah rivalitas AS-China

Potensi tercapainya kesepakatan perdagangan bebas di APEC tetap terbuka menyusul terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden AS, kata pengamat ekonomi

Adi Marsiela, Pizaro Gozali Idrus,Iqbal Musyaffa,Muhammad Nazarudin Latief   | 23.11.2020
Menguji kekuatan APEC di tengah rivalitas AS-China Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin memimpin pertemuan tingkat kepala negara APEC 2020 (Asia-Pacific Economic Cooperation) melalui video conference di Kuala Lumpur pada tanggal 20 November 2020. Malaysia menjadi tuan rumah APEC untuk yang kedua kalinya. waktu sejak 1998. (Farid Bin Tajuddin - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

JAKARTA

Para ahli menilai pertarungan antara China dengan Amerika Serikat telah mengganggu kebijakan negara-negara anggota Forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik atau APEC.

Mangadar Situmorang, Rektor Universitas Katolik Parahyangan Bandung, mengatakan kedua negara adidaya itu sangat sulit meraih konsensus bersama yang berdampak pada kesepakatan perdagangan bebas anggota-anggota APEC.

“Dua kekuatan ekonomi besar ini, China dan Amerika itu bagaimanapun akan jadi penentu kesepakatan multilateral,” kata pengajar Hubungan Internasional ini kepada Anadolu Agency.

Mangadar mengatakan China dan Amerika bagaimanapun akan menjadi penentu kesepakatan multilateral.

“Kalau kedua negara tidak bersepakat, apakah itu misalnya dalam hal industri otomotif atau industri manufaktur lainnya, itu akan sangat susah,” ucap dia.

Dalam forum APEC pada Kamis lalu, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong telah meminta Presiden Amerika Serikat terpilih Joe Biden dapat memperbaiki hubungan dengan China yang memburuk selama empat tahun terakhir.

Lee berharap pemerintahan Biden mempertimbangkan kepentingan AS yang lebih luas, tidak hanya memikirkan neraca perdagangan, tetapi juga hubungan secara keseluruhan dengan China dan kepentingan AS di Asia Pasifik.

Masih terbatas forum

Menurut Mangadar, rivalitas AS-China ini akhirnya menciptakan forum-forum multilateral seperti APEC tidak terlalu efektif untuk meneken kesepakatan perdagangan bebas.

Para anggota lebih suka menjalin hubungan secara bilateral daripada menyandarkan diri pada APEC, meskipun ada hal-hal yang secara prinsip bisa disepakati bersama dalam forum multilateral itu.

“Tetapi secara operasional, [kesepakatan di APEC] itu akan sangat bersifat partial dan atau bilateral, katakanlah tergantung antara perdagangan Indonesia-Australia,” ucap Mangadar.

Mangadar mengatakan kondisi ini yang sering jadi sasaran kritik terhadap multilateralisme yang bersifat longgar, meskipun selalu ada keuntungan bagi masing-masing negara sesuai kekhasan ekonominya.

Mangadar juga mengatakan secara teoritis APEC lebih sebagai forum dan lebih bersifat koordinatif.

Namun demikian, kata Mangadar, prestasi atau keberhasilan APEC lebih pada soal kesamaan pandangan soal strategi pemulihan ekonomi dan pelaksanaan pembangunan untuk kesejahteraan.

Jumat lalu, para pemimpin APEC, termasuk Presiden Amerika Donald Trump, berjanji bekerja sama mewujudkan pasar dan investasi yang bebas, terbuka dan tidak diskriminatif untuk memulihkan kembali ekonomi yang terpukul akibat pandemi virus Covid-19.

Tuan rumah KTT APEC 2020, Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin, dalam konferensi mengatakan terhambatnya perundingan-perundingan pada masa lalu karena perang dagang Amerika-China telah dikalahkan oleh pandemi Covid-19.

Dengan merosotnya pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Pasifik, yang diperkirakan turun dari 3,6 persen pada 2019 menjadi 2,7 persen pada 2020, Yassin mengatakan fokus APEC kali ini menyelaraskan pemulihan ekonomi dan pengembangan vaksin yang dapat terjangkau oleh publik dunia.

Sebagai blok yang mencakup sekitar 60 persen dari ekonomi global, Muhyiddin mengatakan APEC mengambil peran sentral dalam memelopori pemulihan ekonomi pasca pandemi.

“Risiko kesehatan dan dampaknya pada ekosistem ekonomi global telah menjadi agenda prioritas utama bagi seluruh negara APEC tahun ini,” ucap Muhyiddin.

Biden angin segar bagi APEC

Meskipun rivalitas antara AS-China masih terus bergejolak, para pengamat ekonomi menilai terpilihnya Biden akan membawa angin segar bagi APEC.

Direktur Eksekutif Core Mohammad Faisal memprediksi terpilihnya Biden akan meredakan tensi perang dagang dan dapat lebih prospektif dalam kerja sama regional dan multilateral.

“Approach pada negara mitra AS akan berubah tidak lagi frontal dan ini sinyal bagi perbaikan perdagangan global dalam konteks APEC,” kata Faisal kepada Anadolu Agency.

Di Era Trump, kata Faisal, AS bahkan menarik diri dari Kemitraan Trans Pasifik, meski di sana China tidak menjadi anggotanya.

Trump juga tidak mendorong kerja sama regional melainkan lebih menjalin hubungan bilateral di tengah tensi konflik dengan China sehingga mempersulit kemajuan bagi APEC.

“Namun dengan suksesi pemerintahan di AS semoga bisa menjadi angin segar pada peningkatan kerja sama negara-negara APEC dalam kerja sama regional di Asia Pasifik, khususnya untuk negara-negara ASEAN,” kata dia.

Namun, Faisal menilai APEC belum akan berperan besar dalam pemulihan ekonomi di negara anggotanya dalam satu hingga dua tahun depan, karena pemulihan lebih banyak berasal dari kerja sama bilateral.

“Sehingga peran APEC dalam pemulihan ekonomi regional akibat dampak pandemi juga tidak signifikan,” ucap dia.

Dampak bagi ASEAN

Sementara itu, Eko Listyanto, Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), mengatakan potensi tercapainya kesepakatan perdagangan bebas di APEC tetap terbuka menyusul terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden AS.

Eko mengatakan Biden akan memakai strategi baru untuk bersaing dengan China saat menahkodai kebijakan ekonomi Amerika Serikat.

“Jadi, meskipun rivalitas ini akan tetap ada namun pendekatan baru dalam diplomasi dagang oleh AS dan China akan menjadi angin segar bagi rencana-rencana APEC,” kata Eko kepada Anadolu Agency.

Eko juga menyoroti bervariasinya kekuatan ekonomi dari 21 negara anggota APEC.

Menurut dia, kalau hanya AS, China, Australia dan beberapa negara maju yang mendapat manfaat dari APEC, maka berbagai rencana kesepakatan bisa tidak terjadi.

“Diperlukan formulasi agar negara-negara berkembang dalam APEC juga dapat berbagi kesetaraan sehingga secara keseluruhan hubungan ekonomi dan dagang dalam APEC bisa meningkat,” tukas Eko.

Eko mengatakan untuk memastikan APEC membawa manfaat bagi negara-negara berkembang di Asia Tenggara, maka ASEAN harus punya visi bersama di APEC ini.

“Jika main sendiri-sendiri, maka akan sulit bagi ASEAN untuk dapat manfaat besar dari sisi Ekonomi. Jadi ASEAN harus bersatu dalam strategi mewujudkan kesepakatan APEC,” ucap dia.

Dalam penutupan APEC, Malaysia secara resmi menyerahkan posisi ketua kepada Selandia Baru untuk periode 2021.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern bertekad fokus pada pencapaian masa depan yang inklusif, berkelanjutan, dan inovatif saat menjabat Ketua APEC 2021.

“Hari ini kita telah membahas krisis yang dihadapi dunia dan tantangan besar yang harus kita atasi untuk pulih. Cara kita menanggapi tantangan ini sebagai kawasan akan dirasakan untuk generasi mendatang,” ucap Ardern.

Dia mengatakan APEC 2021 akan menjadi awal dari pertumbuhan kembali ekonomi dan menerapkan visi baru serta menetapkan rencana pemulihan jangka panjang di seluruh wilayah.

APEC adalah forum kerja sama 21 negara di lingkar Samudera Pasifik yang berdiri tahun 1989.

Tujuan utama APEC adalah mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan di Asia Pasifik.

Hal ini dilakukan dengan mendorong dan memfasilitasi perdagangan dan investasi yang lebih bebas dan terbuka di kawasan, serta meningkatkan kerja sama pengembangan kapasitas Ekonomi anggota.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın