Dunia, Ekonomi, Berita analisis

EKSKLUSIF: Turki, Indonesia siap hadapi dampak perang dagang

Turki juga menghadapi beberapa kesulitan dalam tawar-menawar dengan negara mitra dagang, termasuk sanksi embargo produk

Dandy Koswaraputra   | 16.08.2019
EKSKLUSIF: Turki, Indonesia siap hadapi dampak perang dagang Duta besar Turki untuk Indonesia Erol Kılıç dalam wawancara dengan Anadolu Agency. (Nicky Aulia - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

JAKARTA

Duta Besar Turki untuk Indonesia Mahmut Erol Kılıç mengatakan potensi perdagangan Turki dan Indonesia bisa lebih ditingkatkan kapasitasnya dari yang selama ini dilakukan kedua negara.

Dalam sebuah wawancara dengan Anadolu Agency baru-baru ini di Jakarta, profesor tasawuf itu mengatakan bahwa kedua negara dengan penduduk mayoritas Muslim tersebut bisa saling menunjang dalam menghadapi perang dagang negara-negara besar.

Menurut data Kementerian Perdagangan, nilai perdagangan Indonesia-Turki mencapai USD1,7 miliar setara Rp24,69 triliun. Angka tersebut hanya sekitar 1 persen dari total perdagangan Indonesia dengan mitranya di seluruh dunia yang mencapai USD168,83 miliar.

Perdagangan Indonesia-Turki sepanjang periode Januari-Mei 2018 tumbuh 28,46 persen menjadi USD835 juta, terdiri dari ekspor USD 620,5 juta dan impor USD214,6 juta sehingga neraca perdagangan mencatat surplus USD405,9 juta.

Dalam wawancara tersebut, Turki mengajak Indonesia untuk menghadapi dampak perang dagang yang dilakukan negara-negara besar. Wawancara ini merupakan seri pertama dari dua seri wawancara yang dipublikasikan Anadolu. Berikut petikannya:

Anadolu Agency (AA): Turki adalah salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Hubungan diplomatik dimulai pada 1950. Bahkan berabad-abad yang lalu, Kekaisaran Ottoman membantu kesultanan Aceh dalam pertempuran melawan Portugis. Jejak bersejarah ini menunjukkan hubungan yang kuat antara Turki dan Indonesia. Bagaimana Anda memandang momen-momen bersejarah dalam konteks hubungan Turki-Indonesia saat ini?

Mahmut Erol Kılıç (MEK): Seperti yang Anda katakan, hubungan antara Turki modern dan Indonesia modern tidak terbentuk hanya 10 tahun yang lalu. Di era Turki modern, hubungan diplomatik antara Turki dan Indonesia sudah hampir tujuh dekade. Tahun depan kita akan merayakan peringatan ke-70 hubungan diplomatik antara Indonesia dan Turki. Tentu saja, sebelum ini, secara historis, sebelum kemerdekaan Indonesia, pada waktu itu tidak ada Republik Turki, yang ada adalah Kekaisaran Ottoman.

Selama Kekaisaran Ottoman, kami memiliki hubungan antara Pulau Jawa dan Sumatra. Di Jakarta, di Betawi, kami memiliki Konsulat Jenderal pada waktu itu, Yusuf Efendi. Kami tahu nama mereka, bahkan kami memiliki beberapa dokumen Ottoman tentang apa yang mereka lakukan.

Saya sangat merekomendasikan beberapa sejarawan Indonesia untuk membuat penelitian tentang arsip Utsmaniyah selama periode Belanda juga, Konsulat Jenderal Kekaisaran Ottoman di Betawi, mereka membuat catatan kehidupan sehari-hari. Ada dokumen menarik tentang kehidupan kota Jakarta saat itu. Tentu tidak hanya di Jakarta, tetapi Banda Aceh dan beberapa kota lain juga termasuk Singapura saat itu.

Jadi, ini berarti kita memiliki ikatan ke masa lalu. Bahkan hari-hari terakhir Kekaisaran Ottoman, waktu itu juga kami memiliki beberapa hubungan. Kami memiliki beberapa dokumen tentang pedagang Turki Ottoman ini. Mereka datang, mereka membuat aktivitas dagang di sini. Sejumlah tentara Ottoman datang dan berperang membantu rakyat Aceh melawan penjajah Portugis. Secara keseluruhan itu berarti kita memiliki ikatan budaya yang sangat dalam antara kepulauan Indonesia dan Turki.

Tentu saja kita mendapat manfaat dari ikatan historis ini dan kita harus mengembangkan hubungan lebih lanjut berdasarkan ikatan historis tersebut. Kami berharap bahwa kami akan meningkatkan hubungan bilateral kami tentang perdagangan dan budaya, kegiatan pendidikan, di bidang berbagai bidang, kami memiliki banyak potensi besar, kedua negara. Saya berharap, sebagai diplomat, saya siap untuk meningkatkan hubungan bilateral Turki dengan Indonesia.

AA: Dalam hal hubungan ekonomi sekarang ini, Turki dan Indonesia memiliki beberapa perjanjian seperti kerja sama perdagangan, pariwisata, pendidikan, dan pertahanan. Sektor mana yang lebih prioritas bagi Anda untuk dikembangkan saat ini?

MEK: Tentu saja kapasitas perdagangan antara dua negara sangat penting. Indonesia dan Turki memiliki beberapa potensi. Satu-satunya masalah adalah informasi, kurangnya pengetahuan dari kedua belah pihak. Investor Turki, mereka tidak tahu betul pasar Indonesia. Investor Indonesia, juga investor swasta dan pemerintah, kedua belah pihak mereka tidak memanfaatkan dengan baik kapasitas Turki sebenarnya.

Pertama-tama kita harus memecahkan hambatan itu. Kedua, ada beberapa masalah birokrasi. Kami sedang mencari jalan keluar dari masalah ini. Itu bukan masalah yang sangat besar. Saya berharap bahwa dalam perjalanan waktu kita akan menguranginya hambatan-hambatan itu dan para pengusaha akan merasa terdorong untuk datang ke sini, untuk berinvestasi di sini.

Satu contoh, misalnya, enam tahun lalu Presiden Jokowi mengatakan bahwa Indonesia memiliki kapasitas energi panas bumi sehingga kami mendorong investor asing untuk datang ke Indonesia dan berinvestasi di bidang ini.

Salah satu perusahaan Turki misalnya, datang ke Indonesia hampir tujuh tahun lalu sehingga mereka mulai berinvestasi. sampai sekarang mereka menghabiskan sekitar 30 juta dolar dan mereka siap untuk mulai bekerja guna menghasilkan energi panas bumi.

Beberapa perusahaan Turki membuka pabrik di dekat Jakarta. Mereka memproduksi tekstil khusus yang telah digunakan di sektor otomotif. Jadi mereka berproduksi di sini dan mereka mengekspor dari Indonesia ke negara lain.

Kami sebenarnya memiliki beberapa kapasitas lain, tetapi pengusaha Indonesia tidak tahu apa kapasitas Turki dan kualitas produksinya. Karena kurangnya pengetahuan dan mendapatkan informasi yang salah. Pertama-tama kita harus mendorong kedua belah pihak untuk menghadiri pameran internasional untuk bertukar informasi di antara keduanya.

Misalnya bulan lalu para investor besar dan pengusaha besar mereka datang dari kota Bursa, mereka mengadakan misionaris Bursa di sini. Mereka membuat rekanan di Indonesia. Saya berharap mereka akan mendapat manfaat untuk pameran dagang semacam ini.

AA: Untuk sektor pariwisata, prospek apa yang bisa di-kerja-sama-kan?

MEK: Dalam bidang pariwisata, sekitar 20 ribu turis Turki mengunjungi Indonesia tahun lalu. Tentu saja sebagian besar di pulau Bali. Baru-baru ini, Turkish Airlines meresmikan penerbangan langsung dari Istanbul ke Denpasar. Kami berharap hal ini akan meningkatkan jumlah penumpang yang berasal dari Turki. Turis Turki atau beberapa penumpang Eropa atau Rusia bisa menggunakan Turkish Airlines untuk datang ke Bali.

Sebaliknya pelancong Indonesia ke Turki lebih banyak. Tahun lalu 80 ribu orang Indonesia mengunjungi Turki tahun lalu. Mayoritas dari mereka adalah jamaah umroh dan haji. Mereka mengunjungi tempat-tempat suci, seperti Mekah dan Madinah di Arab Saudi. Sebelum pergi ke sana atau setelah dari sana, mereka berhenti di Istanbul selama satu sampai tiga hari guna mengunjungi beberapa tempat bersejarah.

AA: Prioritas kerja sama lainnya bagaimana?

MEK: Kami memiliki banyak siswa master Indonesia yang belajar di Turki, jumlahnya sekitar 1.500 orang. Sebaliknya, sangat sedikit siswa Turki belajar di Indonesia. Kami berharap bahwa dalam perjalanan waktu jumlahnya akan meningkat.

Baru-baru ini Kementerian Kesehatan kami juga ingin bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan Indonesia untuk mengembangkan beberapa program di masa depan, terutama di bidang perawatan khusus seperti pengobatan tradisional.

Di Indonesia Anda tahu ada obat-obatan jamu. Di Turki kami memiliki obat-obatan tradisional semacam itu. Sebenarnya, dalam 10 tahun terakhir kami berinvestasi di Cina dalam bidang ini. Karena jika Anda mengendalikan sektor ini secara baik, maka sangat membantu. Jika keluar dari kontrol dan beredar di pasar gelap atau jatuh ke tangan orang yang tidak sah, maka itu bisa berbahaya juga.

Sekarang Kementerian Kesehatan Turki memiliki rencana untuk mendorong produsen obat tradisional lokal Turki untuk bermitra dengan Indonesia.

Proyek lain dari Kementerian Perdagangan Turki adalah sertifikasi produk halal. Kami juga fokus dalam masalah ini. Jadi Indonesia juga sangat sensitif, sangat peduli, memperhatikan aspek halal. Para importir Indonesia, mereka dapat dengan mudah mengimpor beberapa komoditas halal dari Turki, dan sebaliknya untuk Turki dari Indonesia juga.

Berbeda dengan sektor pariwisata, di bidang bisnis perdagangan kurang berimbang antara Indonesia dan Turki. Turki lebih banyak mengimpor produk dari Indonesia. Tetapi impor Indonesia dari Turki sangat sedikit, hanya tembakau dan sajadah saja.

Sebaliknya, Turki mengimpor minyak kelapa sawit dalam jumlah sangat besar dan tekstil juga dalam jumlah yang sangat besar. Turki sangat kuat juga dibidang tekstil tetapi mereka lebih suka menggunakan produk-produk Indonesia.

AA: Masalah utama Indonesia dalam menembus pasar Eropa adalah kampanye buruk mereka terhadap produk CPO Indonesia. Sebagai salah satu negara Eropa sahabat Indonesia, apa yang dapat Turki lakukan dalam membantu Indonesia memasuki pasar Eropa dan melawan kampanye buruk CPO?

MEK: Ya, Anda benar bahwa saat ini beberapa negara Eropa sedang melakukan kampanye melawan beberapa produksi kelapa sawit dari Indonesia dan juga Malaysia di pasar Eropa. Tapi kami, Turki, tidak terlalu terpengaruh oleh propaganda itu. Kami menggunakan produk sawit dari Indonesia. Memang ada pertanyaan dari sisi kesehatan, dalam lima tahun terakhir, mengenai penggunaan komoditas ini dalam industri makanan, tapi itu sesuatu yang lain.

Minyak sawit sebenarnya tidak hanya digunakan dalam produksi makanan. Saya berharap ini bisa secepatnya menjadi jelas. Minyak sawit dapat juga digunakan sebagai bahan bakar.

Jadi ini merupakan perang dagang. Banyak alasan tidak masuk akal di balik semua ini. Ada beberapa alasan politik, dan ada beberapa masalah lain. Terkadang situasi yang sama juga kita hadapi. Turki juga menghadapi beberapa kesulitan dalam tawar-menawar, termasuk sanksi embargo produk. Dengan kesabaran dalam satu atau dua tahun kami memecahkan masalah ini, dan saya harap Anda akan menyelesaikannya juga, Insya Allah.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın